er Pendidikan Guru TK - Guru Taman Kanak Kanak

Mengenal Pelangi


anak tk
pelangi
pelangi-pelangi alangkah indahmu
merah kuning hijau di langit yang biru
pelukismu agung siapa gerangan
pelangi-pelangi ciptaan Tuhan....

Anak-anak yang berusia balita atau memasuki usia playgroup/TK pasti sudah hafal lagu Pelangi diatas. Atau bahkan malah jadi lagu harian anak-anak kita. Selain belajar menyanyi, ada juga unsur mengenalkan nama-nama warna pada anak-anak. Dan juga yang tak kalah penting adalah bahwa adanya pelangi menujukkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika kita melihat pelangi di langit atas sana, apa yang terpikirkan oleh kita? Pelangi yang indah di langit sangat memanjakan mata kita. Dengan udara yang masih sejuk akibat tetesan hujan, sungguh sangat membuai hati kita menjadi damai. Karena biasanya pelangi muncul setelah hujan dan matahari kembali bersinar cerah.

Tapi pernahkah kita berpikir mengapa pelangi yang indah itu melengkung? Mengapa bentuknya tidak lurus atau berbentuk lingkaran?
Pertama-tama titik-titik hujan membiaskan cahaya tampak dan membuat cahaya putih tersebut terpisah menjadi tujuh warna penyusunnya. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu adalah warna-warna penyusun warna putih. Untuk mudah mengingatnya disingkat menjadi 'mejikuhibiniu'.

Kita dapat melihat pelangi yang indah jika keadaanya adalah sebagai berikut:
1. Syarat pertama ialah kita harus membelakangi sumber cahaya saat melihat pelangi. Dalam hal ini, sumber cahaya yang dimaksud ialah matahari.

2. Syarat kedua ini adalah penyebab mengapa pelangi melengkung yaitu kita harus melihat pelangi dari sudut sekitar 40 derajat, selain dari sudut ini pelangi tidak akan terlihat dengan baik. Oleh karena itu, pelangi terlihat melengkung di langit luas.
http://seputarduniaanak.blogspot.com

20 Menit yang Berkualitas untuk Anak


Penggiat komunitas dongeng Dakocan, Ivan Sumantri Bonang, mengatakan, orangtua dapat menyediakan waktu minimal 20 menit yang berkualitas untuk berkomunikasi dengan anak. Penyediaan waktu berkualitas merupakan syarat dasar orangtua untuk menerjemahkan prinsip pendidikan anak usia dini di dalam keluarganya.

“Dalam konteks pendidikan di dalam keluarga, orangtua harus memiliki keterampilan untuk dapat menerjemahkan prinsip pendidikan anak, terutama usia dini,” kata Ivan di Bandar Lampung, Selasa (24/5/2011).
“Namun, karena keterbatasan waktu, orangtua harus menyediakan waktu minimal 20 menit yang dapat memukau anak-anaknya agar prinsip-prinsip pengasuhan dapat dilaksanakan,” lanjutnya.
Ivan menjelaskan, waktu berkualitas bersama antara orangtua dan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya waktu pengasuhan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Waktu berkualitas sangat ditentukan oleh tingginya intensitas komunikasi antara orangtua dan anak.
“Semakin banyak waktu yang berkualitas, kedekatan emosi antara orangtua dan anak akan terjaga. Kedekatan tersebut akan memudahkan orangtua mentransfer nilai-nilai kepada anak-anaknya dan ini memberi peluang besar untuk membentuk karakter yang baik dan mengasah banyak jenis kecerdasan,” katanya.

Pada saat ini, lanjut Ivan, tidak menutup kemungkinan bahwa pengasuhan seorang anak tidak sepenuhnya dilakukan kedua orangtuanya dengan berbagai alasan, seperti terhalang pekerjaan untuk menafkahi keluarga. Akibatnya, pengasuhan terhadap seorang anak harus diserahkan kepada orang dewasa selain kedua orangtuanya, misalnya nenek, kakak, atau pengasuh.
“Namun, hambatan di atas bukanlah merupakan alasan bagi orangtua untuk tidak melakukan pengasuhan berkualitas bagi anak-anaknya. Dalam rentang waktu yang hanya tersisa sedikit, orangtua harus tetap mengkreasi waktu yang berkualitas bagi anaknya,” sarannya.
Tumbuh kembang anak

Sementara itu, bagi para orangtua yang mempunyai kesempatan melakukan pengasuhan secara langsung terhadap anak-anaknya, belum tentu dikatakan otomatis telah melakukan pengasuhan yang berkualitas. Hal itu bisa terjadi karena ketidakmampuan orangtua berkomunikasi atau kurangnya pemahaman orangtua terhadap kebutuhan anak sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Di sisi lain, kebutuhan anak atas perhatian dan pengasuhan intensif dari orangtuanya tidak dapat ditunda.

“Karena lingkungan awal seorang anak terutama terbatas pada rumah, yang berarti sangat tergantung pada orang dewasa di dekatnya, yakni orangtuanya, maka hubungan antara anak dan orangtua mempunyai peran penting dalam menentukan pola perkembangan psikis, sosial, dan emosionalnya di masa depan,” kata Ivan.
Ivan menambahkan, banyak metode yang bisa digunakan untuk mengkreasi waktu pertemuan dalam pengasuhan berkualitas antara orangtua dan anak. Metode yang dapat digunakan adalah permainan sederhana, bercerita, pujian, penghargaan, hafalan nilai-nilai, permainan sebab-akibat, permainan kata-kata yang memerlukan pikiran lebih panjang, dan dialog atau diskusi, serta dapat diterapkan kepada anak-anak dengan melihat jenjang usia perkembangan.

“Namun, untuk anak usia dini, dari semua metode di atas, metode bercerita atau mendongeng merupakan metode paling tepat. Karena bayi atau anak-anak belum memiliki referensi tentang banyak hal dan belum bisa berfantasi karena keterbatasan kognitif dan bahasa mereka,” katanya.
Untuk itu, lanjutnya, orangtua harus memberikan rangsangan untuk meningkatkan kemampuan anak tersebut. Orangtua perlu menggambarkan secara rinci tentang segala sesuatu yang diceritakannya.
Sumber :http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/24/10472747


Di Balik Arti "Alhamdulillah"


Pasti kita sering mendengar ucapan Alhamdulillah kan.
Nah, Apa artinya ?
Ya, Benar. Artinya, Segala Puji Bagi Allah.
Ucapan ini sering kita ucapkan ketika mendapat nikmat dari Allah.
Dan merupakan tanda syukur kita padaNya.

Tapi, bukan itu yang mau di bahas dalam tulisan ini.
Yang menjadi permasalahannya adalah...

Apakah ucapan ini hanya sebatas ungkapan rasa syukur ?
Coba sejenak kita tanyakan kepada diri kita sendiri.

Setiap kali kita mendapat pujian atau ucapan selamat dari teman-teman kita,
Kita mengucapkan "Alhamdulillah", sambil merasa BANGGA dengan pujian itu.
Kita lupa akan arti hamdalah yang sebenarnya.

Ucapan "Alhamdulillah" ialah mengembalikan segala pujian hanya kepada Allah,
Dan menetralisir perasaan bangga ataupun sombong yang dalam hati kita.
Seharusnya kita merasa malu ketika kita dipuji.
Mengapa ???
Karena pujian bukan milik kita.
Sesunguhnya pujian itu ialah milik Allah Yang Maha Terpuji

*********
Ampuni kami Ya Allah...Sungguh kami adalah hamba yang lemah.
Yang tak luput dari salah & lalai.
Bantu kami dalam bersyukur kepadaMu,
Bantu kami dalam mengingatMu,
Bantu kami dalam beribadah kepadaMu.

Alhamdulillahi Rabbil'alamiin (Segala puji hanya milik Allah Tuhan Semesta Alam).

*NB : Terinspirasi oleh tulisan "Agung Solihin" dalam bukunya "Aku Tidak Mau Jadi Penerus Bangsa"



Menjadi Ibu Kreatif

ibu kreatifMenjadi ibu adalah sunatullah bagi para perempuan. Sebuah fase kehidupan yang seolah mengalir, tampak mudah dilakoni oleh semua perempuan. Padahal, banyak hal baru yang ditemui ibu seiring dengan perannya sebagai manajer rumah tangga. Saat menikah, ia dituntut mampu melayani suami dengan baik. Menyediakan makanan kesukaannya, segala keperluannya, hingga memuaskan nalurinya. Lalu ketika hamil, ia harus belajar bagaimana menjadi calon ibu. Apa yang harus dilakukan selama masa kehamilan, bagaimana agar lancar dalam persalinan, dst. Begitu si kecil lahir, tambah banyak lagi pelajaran yang harus diserap ibu: bagaimana cara menyusui, merawat bayi, jika bayi sakit, dst. Ketika di bayi tumbuh menjadi kanak-kanak, ibu harus terus memberikan rangsangan, mendampinginya bermain sembari belajar, mengajarkannya berbagai ilmu kehidipan, dst. Pendek kata, ibu adalah murid, di mana sepanjang usianya harus terus belajar. Sebab, tidak ada ilmu pasti, bagaimana menjalankan peran sebagai ibu. Setiap saat, setiap waktu ada pelajaran baru yang harus dipelajarinya. Untuk itu, ibu dituntut kreatif, terlebih memang tidak ada sekolah khusus bagi kaum ibu. Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:

1. Mencoba hal-hal baru 
Dalam hal apapun, ibu jangan takut mencoba hal-hal baru yang selama ini belum pernah dilakukan. Yang penting halal, boleh dipraktikkan. Seperti mencoba resep masakan baru, yang belum pernah disajikan di rumah. Menyediakan cemilan yang belum pernah disajikan, sehingga penghuni rumah tidak bosan. Termasuk mendesain ulang interior. Ya, sekali waktu, ubahlah penempatan perabot rumah atau mengganti warna cat tembok. Suasana baru, akan menimbulkan semangat baru. Terlebih anak-anak, cepat sekali bosan. Desain ulang kamarnya, niscaya membuat anak betah beraktivitas di kamar “baru”-nya.

 2. Terus belajar 
Belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan melalui cara apa saja. Ibu pun harus menambah wawasannya, baik membaca buku, mengikuti pelatihan/seminar, browsing internet, dll. Dalam kaidah Islam ada ungkapan seperti: “belajarlah sampai ke negeri Cina”, “belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”. Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.

 3. Sharing dengan orang-orang kreatif
 Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman. Jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif, Anda akan menjadi orang kreatif. Jadi, sekali waktu ngobrollah dengan teman soal kerumahtanggaan. Muslimah tak harus membahas soal dakwah melulu dengan teman satu pengajian, tapi juga sharing tentang pernak-pernik rumah tangga. Niscaya ada inspirasi-inspirasi baru dari obrolan itu. 4. Ciptakan suasana kondusif Buatlah rumah tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, juga tamu atau saudara yang datang. Suasana yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Jangan jadikan rumah tegang karena seluruh penghuni serius atau lengang tanpa obrolan plus candaan. Meski tetap menjaga suasana spiritual, memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitmen sebagai norma yang berlaku, suasana rumah yang “cair” membantu penghuni merasa bahagia.
 http://baitijannati.wordpress.com

Proses Pembentukan Karakter Pada Anak


kupu kupuKarakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller
Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?

Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.

Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.
.
Ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.
 http://www.pendidikankarakter.com


Siapakah Guru Pendidikan Karakter?

“Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda mau, Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa Anda” – Soekarno
Proses belajar bagaimana otak menyerap informasi. Inilah yang seringkali diabaikan, kita sebagai orangtua atau guru maunya seringkali “memaksa” anak mengerti tentang sesuatu hal dan “jalankan” seperti computer, kasi perintah dan tekan “ENTER”. Nah, kalo di manusia bukan ENTER tapi “ENTAR” upsss…
Dari penelitian diberbagai belahan dunia yang terus berkembang, hasil riset tentang tehnik penyerapan informasi ke otak dibagi menjadi 5 tahap :
·  Membaca dengan prosentase penyerapan informasi 10%
·  Mendengar dengan prosentase penyerapan informasi 20%
·  Mendengar dan Melihat dengan prosentase penyerapan informasi 50%
·  Mengatakan dengan prosentase penyerapan informasi 70%
·  Mengatakan dan melakukan dengan prosentase penyerapan informasi 90%
Dari informasi diatas mudah bagi kita untuk mengetahui cara yang paling efektif untuk mendidik karakter anak bukan? Kalo mau hasil maksimal, dengan penyerapan diatas 50 % maka metode mendidiknya harus disesuaikan dengan cara otak menyerap informasi.
Tentunya cara itu adalah kombinasi antara Melihat, Mendengar, Mengatakan dan Melakukan. Saya akan membagi 2 tahap penjelasan, yaitu:
1. Melihat dan Mendengar
Adalah proses belajar yang ada contoh dan ada pengajarnya. Jika disekolah tentunya guru yang akan bersuara, jika dirumah maka orangtua. Sebagai guru tentunya harus memberikan contoh dan model karakter yang dikehendaki anak didiknya bagaimana serta mengajarkan “how to achieve”. Jadi pada dasarnya semua guru disekolah bisa menjadi guru pendidikan karakter, jika berkomitmen untuk menjadi contoh dan mau menjelaskan bagaimana agar siswa dapat memiliki karakter seperti gurunya. Sama halnya orangtua yang ada dirumah, siswa hanya 30% berada disekolah, 10-15 % lingkungan sosialnya dan  sisanya dirumah. Maka porsi terbesar adalah orangtua yang menjadi guru pendidikan karakter bagi anaknya.
Seorang anak dari bayi, dia tidak mengenal bahasa. Saat dia kecil dia belajar dengan melihat contoh, dia belajar jalan, membuka pintu, menyalakan tv, semuanya melihat. Dan proses belajar seperti ini masih berlanjut pada kehidupan kita orang dewasa. Jadi jangan anggap sepele dalam sikap dan perilaku kita untuk memberikan contoh yang baik untum pendidikan karakter anak.

2. Mengatakan dan Melakukan
Ini terkait dengan peraturan dan system yang berlaku lingkungan belajar pendidikan karakter (sekolah dan rumah). Bagaimana peraturan disekolah dan dirumah selaras dengan tujuan pendidikan karakter. Baiklah saya akan memberi contoh, di Indonesia, di Surabaya khususnya saya masih bisa memberhentikan angkutan umum (metromini) sembarangan. Dimana saya ada di jalan raya, saya lihat ada angkutan umum saya tinggal angkat tangan saja maka amgkutan umum itu akan berhenti. Hal ini bisa berlaku di Surabaya, tapi tidak di Singapura. Jika saya pindah ke Singapura maka saya tidak bisa seenaknya saja memberhentikan angkutan umum, ada tempat khusus dimana angkutan umum tersebut mau berhenti. Maka perilaku saya akan berubah mengikuti aturan yang berlaku, saya akan ke halte jika mau naik kendaraan umum.
Jadi dalam pendidikan karakter juga diperlukan seting macam ini juga, seting lingkungan untuk mendukung perilaku Melakukan yang akhirnya akan terbiasa. Seperti ada pepatah bisa karena biasa, sama seperti halnya aturan baru dalam berlalu lintas. Belakangan ini banyak aturan baru sehingga jalan yang biasanya bisa 2 arah hanya satu arah untuk keefektifan pengguna jalan dan menghindari kemacetan, jika kita langgar maka tilang. Pertama terasa berat, setelah 1 bulan sudah biasa, tidak ada beban lagi. Manusia adalah mahluk yang mudah beradaptasi, terasa berat jika itu dijalankan terus menerus, maka lama-lama terbiasa. Dalam melakukan pola ini jangan lupa memberikan konsekuensi jika melanggar, tentunya konsekuensi yang mendidik dan tidak merusak harga diri anak. Contoh: jika melanggar maka mainan kesukaan anak akan disita 2 hari.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
 http://www.pendidikankarakter.com