er Pendidikan Guru TK - Guru Taman Kanak Kanak

Tumbuh Kembang Anak Di Usia Sekolah

Tumbuh kembang anak di usia sekolah (pra TK dan TK ) adalah masa dimana anak mulai meninggalkan masa balita dan menginjak masa sekolah. Saat – saat yg paling di tunggu oleh kebanyakan orang tua karena di masa ini adalah masa paling penting bagi anak itu sendiri dan tentunya bagi para orang tua.Dari masa kehamilan 9 bln, masa bayi, masa balita, masa anak – anak,masa remaja dst.

Tumbuh kembang anak di usia sekolah merupakan fase di mana anak mulai mengenal lingkungan luar dan lebih luas, karena anak mulai berinteraksi dengan orang – orang yang baru di kenal,dan dalam lingkup besar.Oleh karena itu banyak yg dapat diperoleh anak tersebut baik dampak positif maupun negative. Disinilah peran keluarga terutama orang tua untuk dapat membantu anak membedakan mana yang boleh di lakukan dan tidak boleh di lakukan.

Faktor – faktor yang sering mempengaruhi tumbuh kembang anak:
1 . GIZI
Gizi yang baik tentunya mempengaruhi tumbuh kembang anak di usia sekolah, dimana dengan gizi yang baik menjadikan anak tumbuh dengan sehat dan meminimalisir akan penyakit,karena anak yang menginjak di usia sekolah aktivitas jadi lebih banyak dan beragam. Anak lebih tertarik untuk belajar sesuatu yang baru, bermain dengan ceria bersama temannya. Gizi yang baik tentunya kita dapatkan dari menu makanan anak, vitamin tambahan dan susu.

2 . MENTAL
Mental anak dalam lingkungan baru sangat di butuhkan,karena anak mulai mengenal banyak hal mulai dr awal pencarian jati diri anak, rasa keingintahuan, kemandirian, dan tanggungjawab. Dan mental anak sendiri terlihat di kala anak msh bayi. Disinilah masalah yang paling sensitive yang harus di hadapi orang tua. Kenapa? secara otomatis anak sudah mempunyai beberapa ruang lingkup dalam belajar yang dapat mempengaruhi psikologi anak .

3 . LINGKUNGAN
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama dan dasar bagi anak,karena itu keluarga berperan penting dalam pertumbuhan anak apalagi mulai menginjak dunia sekolah. Lingkungan yang kedua dst,dapat memberi pengaruh jauh lebih banyak dan berbeda bagi anak seperti suka membanding–bandingkan, ingin dapat perhatian yang lebih, ego dll.

Lingkungan baru tidak hanya dampak negative yang perlu di waspadai orang tua tetapi banyak juga dampak positif yang di dapat seperti anak mulai mengerti untuk berbagi kepada orang lain, menolong kesusahan teman maupun orang tua nya dsb.

Dalam menyikapi dampak – dampak negative lingkungan bagi tumbuh kembang anak sebaiknya orang tua jangan melihat dari satu sisi.
Berikut ini sebaiknya apa yang harus orang tua tanamkan kepada anak sejak dini dalam menghadapi usia tumbuh kembang anak nantinya:

Pendidikan agama yang cukup dan kuat sebaiknya kita tanamkan sejak dini,karena dengan pendidikan agama yang cukup bisa mengendalikan perilaku moral anak di dalam lingkungan baru yaitu lingkungan sekolah.

Kasih sayang dan perhatiian yang cukup menjadikan keluarga menjadi tempat berbagi yang paling nyaman bagi anak. Sehingga anak tidak akan cari penyelesaian di luar dari keluarga yang mungkin bukan jalan keluar yang anak dapat tetapi pengaruh yang jauh lebih buruk. Alangkah baiknya bila anak kita jadikan sebagai teman atau sahabat dalam menghadapi anak yang mulai mengalami pertumbuhan.

Karena dengan kita bisa menjadi teman/sahabat,anak jadi bisa dengan leluasa bercerita kepada kita apa yang terjadi di luar sana. Sebaiknya kita jadi pendengar yang baik buat anak, setelah mereka selesai bercerita ataupun keluh kesah. Disini peran orang tua untuk membantu mencari solusi dalam tumbuh kembang anak kita.


Perkembangan Psikologi Anak Tergantung Orangtua

Perkembangan Psikologi Anak. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena manusia diberikan akal dan pikiran berbeda dengan binatang. Dengan akal pikiran yang dimiliki manusia, seseorang dapat mengontrol  hawa napsunya. Dan dengan akal pikiran yang dimiliki, manusia dapat berfikir dan dapat mencari ilmu pengetahuan yang dapat berguna bagi kehidupannya nanti.

Salah satu ilmu yang dipelajari oleh manusia adalah ilmu psykologi.  Psykologi adalah ilmu tentang kejiwaan seseorang  baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun pada tulisan ini akan dibahas tentang perkembangan psikologi anak.

Perkembangan psikologi anak dapat dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu masa bayi, masa anak-anak, masa remaja dan masa dewasa. Masa bayi adalah ketika anak berusia 0-2 tahun, masa anak-anak adalah masa balita, masa sekolah,dan masa pra remaja, masa remaja adalah ketika seoprang anak sudah mulai tertarik kepada lawan jenis dan sudah menstruasi, sedangkan masa dewasa ketika seorang anak sudah mengerti tentang arti dari sebuah kehidupan.

Pada saat balita, anak selalu berkembang dengan kemampuannya. Anak-anak sering melakukan kegiatan-kegiatan agar dia aktif dalam bergerak. Pada masa ini anak-anak melatih berbicara dan setiap harinya kosa kata mereka bertambah. Pada masa ini sebaiknya anak-anak selalu diberi perhatian lebih agar perkembangan seorang anak tumbuh dengan sempurna. Pada masa ini anak-anak lebih suka bermain, walaupun permainan yang sederhana namun akan sangat bermanfaat bagi balita.

Pada masa sekolah, anak-anak memasuki masa pembelajaran, mereka lebih sering mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan anak mulai bergaul dengan teman-temannya. Dan pada masa ini anak-anak mulai belajar tentang tingkah prilaku seorang anak. Anak –anak mulai mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Masa remaja adalah masa dimana anak-anak mulai bersikap tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Perkembangan Psikologi Anak pun semakin meningkat, mulai dari emosionalnya. Pada masa ini anak-anak lebih cepat berkembang, anak-anak pada usia ini lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar atau teman-teman sebayanya. Dan anak-anak lebih sering menolak apa yang dianggap baik oleh orangtua. Namun anak-anak perlu mendapat bimbingan dari orangtua.
http://duniaanak.org

Anak Kecil Suka Coret-coret?

Orangtua seringkali menemukan coretan-coretan pada dinding rumah yang dilakukan oleh si kecil. Betul? Mengapa anak kecil suka sekali mencoret-coret?

Kelakuan ini seringkali membuat orangtua menjadi kesal dan marah, karena tembok rumah yang tadinya bersih jadi kotor. Biasanya anak kecil belum bisa menggambar bentuk yang benar, sehingga coretan yang ada masih belum terbentuk. Namanya juga belajar, tentu memerlukan proses.

Meskipun kondisi ini tidak menyenangkan dan membuat rumah terlihat kotor, sebaiknya orangtua tidak memarahi atau membentak si kecil. Namun beritahukan pada anak di mana seharusnya ia boleh menggambar atau mencoret-coret. Sebagai solusinya, sediakan pula sarana seperti buku gambar, kertas kosong dan crayon ukuran besar sehingga anak mudah untuk memegangnya. Bagi anak yang masih kecil, tetap dalam pengawasan agar jangan sampai crayon dimasukkan ke mulut, misalnya.

Kebiasaan mencoret-coret ini merupakan salah satu cara untuk melatih perkembangan motorik halusnya, perkembangan ini nantinya akan dibutuhkan untuk membantu anak menulis dan menggambar.

Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi si kecil untuk mengungkapkan atau mengekspresikan dirinya, meskipun gambar yang dihasilkan terkadang tidak bisa dimengerti oleh orangtua.

Coretan yang dihasilkan oleh si kecil berbeda-beda tergantung pada usianya, yaitu:

1. Coretan acak terjadi pada usia 12-30 bulan (2,5 tahun)
Pada usia ini anak masih belajar untuk memegang pensil warna dan membuat tanda atau garis di atas kertas. Anak-anak cenderung mengalami kenikmatan kinestetik, yaitu kesenangan atau kenikmatan untuk bergerak dan membuat tanda. Coretan yang dihasilkan masih acak dan tidak teratur serta cenderung menghasilkan garis panjang sepanjang kertas atau tembok.

2. Coretan terkontrol terjadi pada usia 2,5-3 tahun
Pada usia ini anak mulai menggunakan gerakan pergelangan tangan, mengontrol coretannya dan membuat gambar yang lebih kecil. Namun coretan yang dihasilkan belum sepenuhnya bisa dimengerti orang lain, dan juga anak masih suka menggambar atau mencoret-coret tembok.

3. Coretan yang dihasilkan mulai berbentuk, terjadi pada usia 3-4,5 tahun
Anak-anak mulai memegang crayon dengan menggunakan jari serta sudah mampu membuat berbagai garis dan bentuk serta gambarnya sudah mulai bisa dimengerti. Selain itu anak-anak juga cenderung ‘mengisahkan’ atau ada cerita di balik gambar yang dibuatnya. Terkadang, Salma lebih seru cerita dari mulut mungilnya dibandingkan hasil coretannya....hehe....

4. Preskematik terjadi pada usia 4,5-7 tahun
Anak mulai menggambar simbol-simbol seperti garis yang meliuk-liuk, lingkaran, spiral, angka-angka dan sesuatu yang mulai menyerupai objek sebenarnya. Tapi anak-anak masih belajar untuk mengungkapkan sesuatu pada orang lain melalui gambarnya.

Orangtua sebaiknya tidak melarang kegiatan anaknya ini, karena banyaknya larangan yang diterima oleh si kecil akan menghambat sisi kreativitas anak untuk berani mengekspresikan dirinya. Selain itu larangan yang diberikan atau memarahinya tidak akan memberitahu anak mana yang salah dan mana yang benar.

Karena itu orangtua harus menyediakan sarana bagi anak untuk menggambar, serta memberitahu dan memberi pengertian pada anak dimana saja anak boleh menggambar dan daerah mana saja yang tidak boleh.

Memang tidak mudah dan tidak cukup sekali saja memberitahunya, untuk itu orangtua harus sabar dan mengulanginya terus, serta jangan lupa untuk memberi anak pujian jika ia berhasil menggambar di tempat yang benar.
http://listiantikahfiana.blogspot.com

Cara mengatasi anak yang takut gelap

Wajar bila anak usia prasekolah takut gelap. Setelah usia 3 tahun, imajinasi anak memang berkembang dan akan mereda dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya umur.

Berikut ini beberapa cara mengatasi anak yang takut gelap atau takut kegelapan:

1. Setelah anak usia 5 tahun ia diharapkan sudah bisa membedakan mana yang khayalan dan mana yang nyata. Bila lewat usia balita, rasa takut anak masih begitu kuat, orang tua perlu membantu anak mengatasi rasa takutnya.

2. Di dalam gelap atau disaat anak berada dalam kegelapan, anak akan membayangkan hal-hal yang menakutkan, semisal hantu, monster, ular naga, bahkan pencuri. Semakin berkembang daya imajinasinya, kian tinggi pula tingkat ketakutannya. Faktor yang ikut memperkuat daya imajinasi anak, diantaranya adalah nonton film, baca buku seram, atau sering ditakut-takuti.  Hal ini akan membuat imajinasi anak berkembang ke arah yang negatif. Untuk Anda yang sering menakut-nakuti anak, mulai sekarang hilangkan kebiasaan itu.

3. Ambil tindakan nyata dalam memahami ketakutan anak yaitu dengan ikut berempati. Ajari anak bagaimana caranya berelaksasi. Entah dengan mendongeng atau malah mengajaknya bermain petak umpet dalam gelap. Saat bermain biasanya anak akan lupa pada imajinasinya yang menyeramkan. Bisa juga karena sudah terbiasa bermain dalam keadaan gelap, anak jadi tidak takut gelap lagi.

4. Anak-anak yang otomatis masih berlajar, lewat permainanpun bisa mengurangi rasa takutnya pada kegelapan. Misalnya, ajak anak bermain dengan bayangan dari benda-benda di sekitar, boneka misalnya. Bisa jadi bayangan boneka itu sangat jelek, anak salah menebaknya, nah setelah dikeluarkan wujud boneka aslinya, anak akan tahu itu bayangan boneka. Bukan sesuatu yang menakutkan seperti yang dia pikirkan.

Yang pasti, jangan pernah menyalahkan anak atau memarahinya apabila ia takut gelap. Bila hal itu dilakukan, yang ada anak akan makin takut. Dengan cara-cara di atas, semoga anak secara perlahan tidak akan takut gelap lagi.
http://seputarduniaanak.blogspot.com

Tips Menggali Kreativitas Anak

anak kreatif
Anak kreatif
Melihat anak senang menggambar atau bernyanyi, Anda sebagai orangtua pasti akan ikut senang. Namun, di dalam hati mungkin tersimpan pertanyaan, bagaimana ya caranya supaya anak bisa lebih kreatif lagi. Apakah Anda harus memberikan lebih banyak krayon? Mungkin tidak. Justru, memperkenalkannya pada lingkungan baru dan aktivitas lainnyalah yang akan bisa mengasah kreativitas anak. Dan tentu saja ini tidak terlepas dari keterlibatan orangtua. Coba beberapa tips ini untuk membuat anak lebih kreatif:

1. Ajak mereka masuk dapur
Sesekali, biarkan anak ikut memasak bersama Anda dan ajarkan mereka tentang berbagai jenis bumbu dan bahan makanan. Biarkan mereka mencoba resep hasil temuannya sendiri dan ikutlah mencicipi. Bawa juga mereka ke pasar untuk melihat berbagai bahan pangan yang dijual dan ceritakan apa saja yang bisa diolah dari sana. Mengetahui bagaimana makanan yang tersaji di rumah itu dibuat dan dari mana asalnya akan menjadi cara yang bagus untuk menstimulasi rasa ingin tahu mereka. Dan, siapa tahu akan memunculkan hobi yang baru!

2. Matikan televisi, nyalakan musik
Jika anak sering membuat PR atau menggambar sambil menonton televisi atau melihat komputer, cobalah cara yang lain. Putar berbagai jenis lagu yang menarik, yang mungkin tidak pernah mereka dengar -mulai dari komposisi musik klasik hingga lagu balada, dari band zaman dulu hingga yang sedang tenar saat ini. Menyimak alunan musik yang berbeda dapat membantu menumbuhkan inspirasi dalam diri anak, dengan cara yang tidak terduga.

3. Jawab pertanyaan anak dan ajukan pertanyaan
Mungkin Anda sedang stres, capek, atau tidak kepingin menjelaskan jawaban dari pertanyaan "kenapa...?" yang diajukan oleh anak. Tapi, penting bagi para orangtua untuk memahami bahwa memberikan respons pada pertanyaan-pertanyaan kritis anak itu dapat menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Trik lain agar otak mereka selalu terstimulasi adalah dengan mengajukan pertanyaan balik. Misalnya, "Kalau kamu bisa melakukan apa saja, apa yang akan kamu buat?" Jawaban anak pasti akan membuat Anda terkejut dan merasa terhibur. Sementara anak juga senang ditanya seperti ini.

4. Rencanakan hari khusus untuk bepergian
Terserah Anda mau menamakannya apa. Apakah Hari Bertualang (biar kesannya seru) atau cukup Hari Jalan-jalan. Pada hari itu, saatnya keluar dari kegiatan rutin dan tempat-tempat yang selalu dikunjungi. Bawalah anak-anak ke suatu tempat baru yang bisa membuka pikiran dan mengasah imajinasi mereka. Bisa dengan pergi ke museum, ke taman, atau ke gunung. Usahakan untuk mengajak mereka berkunjung ke tempat-tempat baru sesering mungkin. Libatkan anak dengan bertanya, tempat seperti apa yang ingin mereka kunjungi. Atau, tanyakan padanya apa yang sedang dipelajari di sekolah dan ajaklah ke tempat yang berhubungan dengan pelajarannya itu.
kompas.com

Seberapa Penting Menjadi Jenius

oleh: Maya A. Pujiati

Kejeniusan adalah berpikir dalam cara yang belum pernah dilakukan orang. Orang Jenius mampu melihat sesuatu yang luput dari penglihatan orang lain. Mereka melihat kemungkinan di antara ketidakmungkinan. Mereka bisa menjabarkan paket-paket pengetahuan yang diterimanya dalam cara baru dan produktif. (Todd Siler)

Definisi jenius yang saya kenal sebelumnya terakumulasikan dalam sosok-sosok Plato, Adam Smith, Thomas Alpha Edison, atau Einstein. Tentu sudah terbayang hebatnya orang jenius kalau kita melihat kredibilitas orang-orang tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, sekolah memperkenalkan sosok-sosok jenius itu hanya dalam teori-teorinya yang harus dihapal, diujikan, dan pada akhirnya dilupakan, karena secara kontekstual teori-teori itu hampir tak bisa dipahami dalam kehidupan nyata sehari-hari. Adapun apa sesungguhnya kejeniusan para tokoh tersebut nyaris tak terungkap.

Akibatnya, kejeniusan begitu mengawang, seolah tak tersentuh kecuali oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mau membaca buku-buku tebal dan betah berjam-jam berada di sebuah laboratorium. Padahal, kejeniusan tokoh-tokoh besar seperti Einstein dkk hanya terletak pada dua hal, yaitu kemauan untuk berpikir mendalam tentang sebuah fenomena dan berani untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Untuk melakukan dua hal tersebut, siapapun bisa, tak terkecuali anak-anak kita.

Nah, bagaimana kita mengarahkan anak-anak menjadi seperti itu? Kalau pendidikan itu hanyalah menghapal teori-teori, maka kejeniusan memang akan sulit dieksplorasi. Seorang Edison, seperti yang sudah kita tahu, ternyata melakukan ribuan kali percobaan yang gagal sebelum menemukan bola lampu listrik yang hari ini kita nikmati hasilnya. Demikian halnya dengan lahirnya teori Newton yang konon tercetus saat Newton berada di bawah pohon apel dan melihat buah apel jatuh ke tanah. Begitu juga dengan Wright bersaudara yang berhasil membuat pesawat terbang, tentu mereka telah melakukan banyak coba-coba sebelum hal itu terwujud. Semua fakta itu menunjukkan bahwa sesungguhnya, persentuhan dengan dunia nyata adalah jalan paling realistis menuju lahirnya para jenius-jenius baru. Membaur dengan dunia nyata akan menjadi pemantik gagasan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di dunia ini.

Jangan lupa, bahwa para jenius itu sebenarnya bertebaran di mana-mana, meski mungkin tak semua dikenal masyarakat luas. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menemukan dan membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Kelompok orang-orang itu di antaranya adalah penemu peniti, penemu jarum jahit, penemu karet gelang, pembuat tungku arang, para petani, para nelayan, dan lain-lain yang tanpa dijuluki seorang jenius, mereka sesungguhnya para praktisi iilmu pengetahuan di bidangnya masing-masing.

Jadi, terlebih bagi

Seberapa penting menjadi jenius? Jika pengertian jenius adalah hafal perkalian atau bisa menyelesaikan soal-soal persamaan dan pertidaksamaan, maka biarlah anak-anak tumbuh sesuai kemampuannya; tapi jika jenius itu berarti memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, maka betapa pentingnya menjadikan anak-anak kita jenius, karena bukankah esensi hidup adalah menyelesaikan persoalan…

Salam pendidikan!
http://duniaparenting.com