Tak mudah mengajarkan disiplin pada anak. Bila pendekatannya sampai salah, alih-alih mengikuti nasihat Anda, yang terjadi mereka justru akan memberontak.
Lupakan mendidik anak dengan menonjolkan kekuasaan orang dewasa, misalnya memarahi atau memukul. Karena hal ini akan mengajari si kecil untuk melawan
Membimbing anak adalah sesuatu yang perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan sentuhan kasih sayang. Ingin tahu bagaimana mendidiknya, berikut ini caranya, dikutip dari laman Times of India.
- Jika ingin anak mengikuti kemauan Anda
Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua. Jika ingin membiasakan mereka melakukan sesuatu, Anda harus memberinya contoh. Misalnya, membuang sampah di tempat yang benar, merapikan tempat tidur setelah bangun atau mengunyah makanan tanpa bersuara.
- Jika anak-anak sulit diatur di tempat umum
Bersabarlah dan mencoba memberi pandangan yang baik pada mereka. Jika mereka masih tidak memperhatikan Anda, ancam dengan hukuman. Namun, ingat untuk tidak menaikkan nada suara Anda atau memukul mereka. Sebab, aksi itu hanya akan membuat mereka tambah nakal.
- Selalu memperlakukan anak sebagai orang dewasa
Mereka juga mencari rasa hormat dan kepentingan dari orang tua. Memberikan pujian karena berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, memberi kesempatan memutuskan baju yang akan dibeli, misalnya. Hal itu akan membuat mereka merasa dihargai.
- Cobalah untuk tidak memarahi
Jika anda ingin marah, sebenarnya itu hanya menunjukkan titik lemah Anda. Anak-anak akan dengan cepat menangkap reaksi Anda, bahkan bisa meniru perbuatan itu. Akan lebih baik, Anda mengarahkan mereka untuk melakukan sesuatu hal yang lebih positif.
- Jika anak melakukan kenakalan di depan orang lain
Jangan berteriak pada mereka. Tunggu sampai Anda kembali ke rumah atau orang lain tersebut menjauh. Kemudian menjelaskan secara tegas bahwa perilaku semacam ini tidak bisa diterima. Ingatkan juga pada mereka bahwa jika mengulangi perilaku ini, Anda akan memberikan hukuman.
1.Biasakanlah dia mengambil, memberi, makan dan minum dengan TANGAN KANAN. Jika makan dengan tangan kiri, ingatkanlah ia dan pindahkan makanannya ke tangan kanan secara halus.
2.Biasakanlah ia mendahulukan BAGIAN KANAN dalam berpakaian. Ketika menggunakan kain, baju atau lainnya, mulaikanlah dari kanan, sedangkan ketika melepas, MULAIKANLAH DARI KIRI.
3.Biasakanlah ia untuk TIDUR MIRING KE KANAN, dan bukan tidur tertelungkup.
4.Biasakanlah ia untuk tidak memakai PAKAIAN/ CELANA PENDEK, agar anak tumbuh dengan keasadaran menutup aurat dan malu untuk membukanya.
5.Biasakanlah ia untuk tidak menghisap JARI ATAU MENGGIGIT KUKU.
6.Biasakanlah ia untuk BERLAKU SEDERHANA dalam makan dan minum dan jauhkanlah dari sikap rakus.
7.Biasakanlah ia untuk tidak bermain dengan hidung.
8 Biasakanlah ia untuk membaca “BISMILLAH” ketika hendak makan.
9.Biasakanlah ia untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak mulai makan sebelum orang lain.
10.Biasakanlah ia untuk tidak memandang tajam kepada makanan atau orang yang makan.
12.Biasakanlah ia untuk tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.
13.Biasakanlah ia untuk makan makanan yang ada dan tidak menginginkan yang tidak ada.
14.Biasakanlah ia untuk MENJAGA KEBERSIHAN MULUT dengan siwak/sikat gigi setelah makan, sebelum tidur dan sehabis bangun tidur.
15.Biasakanlah ia untuk menyilahkan orang lain dalam makanan permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak famili yang masih kecil dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu permainan/makanan.
16.Biasakanlah ia untuk membaca “ALHAMDULILLAH” jika bersin, dan mengatakan “YARHAMUKALLAH” kepada orang bersin yang telah membaca “ALHAMDULILLAH”
17.Biasakanlah ia untuk menahan mulut dan menutupnya jika ia menguap dan menjaganya supaya jangan sampai bersuara.
18.Biasakanlah ia untuk mengucapkan terimakasih jika mendapat kebaikan meski sedikit.
19.Biasakanlah ia untuk tidak memanggil ibu dan bapak DENGAN NAMA-NAMA, tapi biasakanlah dengan panggilan Umi (ibu) dan Abi (bapak).
20.Ketika berjalan, biasakanlah ia untuk tidak mendahului kedua orang tua atau siapapun yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki sebuah tempat lebih dulu dari kedua orangtuanya untuk menghormati mereka.
21.Biasakanlah ia untuk berjalan kaki di trotoar, bukan di tengah jalan.
22.Biasakanlah ia untuk tidak membuang sampah di jalan, bahkan anjurkanlah untuk menyingkirkan kotoran dari jalan.
23.Biasakanlah ia untuk mengucap salam dengan sopan ke orang yang dijumpai dengan ucapan “ASSALAMU’ALAIKUM” serta membalas salam kepada orang yang mengucapkan.
24.Biasakanlah ia untuk berkata-kata dengan benar dan berbahasa dengan baik.\
25.Biasakanlah ia untuk menuruti perintah orang tua atau yang lebih besar darinya, jika ia disuruh seseuatu yang diperbolehkan. Jika membantah, ingatkanlah ia supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela jika hal ini memungkinkan. Jika tidak mungkin, maka paksalah ia untuk menerima kebenaran, karena hal itu lebih baik daripada tetap membantah dan bersikap bandel.
26.Hendaklah orang tua berterimakasih kepada anak jika menuruti perintahnya dan menjauhi larangannya.Bisa juga dengan memberikan hadiah yang disenangi (makanan, minuman, jalan-jalan)
27.Hendaklah orang tua tidak melarangnya bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir atau permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkanbaju kotor. Karena, permainan pada usia ini penting untuk jasmani dan akal anak.
28.Biasakanlah ia untuk senang pada alat permainan yang dibolehkan, seperti bola, mobil, miniatur pesawat terbang, dan sebagainya. Dan biasakanlah ia untuk membenci alat permainan yang bentuknya terlarang, yaitu manusia dan hewan (gambar makhluk hidup, red)
29.Biasakanlah ia untuk menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan/makanan orang lain, sekalipun itu milik saudaranya sendiri.
Disalin dari buku: PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM, karangan Yusuf Muhammad Al-Hasan
Itu apa Bunda?"
Pertanyaan ini mungkin sering terlontar dari si kecil ketika dia sudah pandai berbicara dan mulai mengamati sekelilingnya. Tuigas kita sebagai orang tua tidak hanya menjawab pertanyaan namun juga merangsang keingintahuannya dengan menambahkan keterangan tambahan lain dengan bahasa yang sederhana.
Misalnya, Bunda sekeluarga sedang duduk di teras yang menghadap ke halaman rumah, tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang melintas. Anda bisa mengugah rasa ingin tahunya.
"Lihat, itu kupu-kupu." kemudia tambahkan informasi lainnya seperti,
"Kupu-kupu itu dulunya ulat." Si kecil nantinya akan balas bertanya "Apa itu ulat?", "Seperti apa itu ulat?"
Membiasakan si kecil untuk mendengarkan tambahan keterangan membuatnya belajar untuk mencoba memahami. Disela-sela belajar, Bunda atau Ayah pun bisa melakukannya melalui lagu dan musik atau cara lain yang menyenangkan. Ada baiknya Bunda dan Ayah mulai mengumpulkan buku-buku bergambar yang menarik sebagai bahan-bahan pengamatan si kecil. Mulailah membacakan cerita-cerita sederhana untuk menambah perbendaharaan katanya sejak dini.
Obyek pembelajaran bagi si kecil bisa bermacam-macam, termasuk bagian-bagian tubuhnya. Banyak yang dapat Bunda atau Ayah eksplorasi mulai dari rambut, jari-jari ataupun pusarnya! Sesi belajar pun akan lebih menyenangkan dengan menyanyikan lagu-lagu seperti "dua mata saya..." atau "kalau kau suka hati..."
Ajari pula si kecil untuk mulai belajarmengurus dirirnya sendiri seperti, mencuci tangan sendiri, buang air kecil sendiri, sambil terus memberinya arahan kemudian rangsang daya ingatnya, seperti kegiatan mencuci tangan berikut,
"Nah setelah kerannya dinyalakan, tangan dibasahi, terus?" ketika Bunda bertanya hal seperti itu si kecil mungkin akan merespon dengan pertanyaan lagi ketika dia tidak mengerti. Arahkan terus hingga si kecil mengerti.
Proses belajar juga dilakukan ketika si kecil dibiasakan menghadapi pilihan. Misalnya,
"Kamu mau yang warna biru atau merah?"
"Mau mangga atau jeruk?"
Memberinya pilihan akan melatihnya untuk mengambil keputusan dan merangsang ingatannya untuk mengingat perbedaan dari benda-benda yang diberi pilihan.
Tujuan utama dari semua kegiatan ini adalah mengkomunikasikan ide. Walaupun begitu, mengucapkan kata-kata dengan benar tetap penting, jangan pernah menyerah untuk membenarkan kata-katanya dengan memberikan contoh yang benar.
Dalam dunia pendidikan, khususnya pada konsep pembelajaran dan evaluasi pendidikan, kita sering mendengar istilah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Istilah-istilah tersebut bahkan menjadi mainstream atau arus utama yang melandasi pelaksanaan pendidikan. Karena dalam pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut terkandung totalitas potensi subyek didik yang perlu dikembangkan.
Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik.
Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.
Pengertian kognitif afektif psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar. Dalam setiap ranah ini juga terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih detail. Ketiga ranah itu meliputi :
Ranah Kognitif
Ranah atau kawasan ini merujuk potensi subyek belajar menyangkut kecerdasan atau intelektualitasnya, seperti pengetahuan yang dikuasai maupun cara berpikir. Dalam domain atau ranah ini, Bloom membaginya ke dalam dua bagian besar. Masing-masing adalah pengetahuan dan ketrampilan intelektual.
Bagian pengetahuan mencakup kemampuan atau penguasaan terhadap pengertian atau definisi sesuatu, prinsip dasar, pola urutan, dan sebagainya. Sedangkan bagian ketrampilan intelektual diperinci lagi menjadi beberapa tingkatan, dari pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, dan evaluasi. Semakin meningkat kemampuan seseorang memperlihatkan kecerdasannya yang semakin tinggi.
Ranah Afektif
Domain ini mencakup kemampuan menyangkut aspek perasaan dan emosi. Pada ranah ini juga terbagi dalam beberapa bagian yang meliputi aspek penerimaan terhadap lingkungannya, tanggapan atau respon terhadap lingkungan, penghargaan dalam bentuk ekspresi nilai terhadap sesuatu, mengorganisasikan berbagai nilai untuk menemukan pemecahan, serta karakteristik dari nilai-nilai yang menginternalisasi dalam diri.
Ranah Psikomotorik
Ranah atau kawasan ini mencakup kemampuan yang menyangkut ketrampilan fisik dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu, seperti ketrampilan dalam bidang olah raga, penguasaan dalam menjalankan mesin, dan sebagainya.
Pada ranah ini juga terbagi dalam sejumlah aspek, meliputi persepsi terhadap panca indra, kesiapan untuk melakukan suatu gerakan fisik, respon terpimpin atau gerakan yang dilakukan berdasarkan trial and error ataupun berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya, mekanisme atau kecakapan melakukan sesuatu, respon motorik yang tampak atau terlihat, penyesuaian atau adaptasi, serta aspek penciptaan gerakan baru sebagai hasil dari ketrampilannya.
GUNAKAN BAHASA YANG SINGKAT, SEDERHANA DAN TIDAK PANJANG LEBAR
Orang dewasa saja terkadang bingung jika mendengar pembicaraan yang panjang lebar, apalagi anak. Maka dari itu, gunakan komunikasi/bahasa yang to the point sehingga maksud orang tua dapat lebih mudah dipahami. Misalnya : “Dek, buang kertasnya di keranjang sampah dong”.
GUNAKAN BAHASA SE KONKRET MUNGKIN
Daripada berkata : “Kamu tidak boleh egois terhadap teman”. Lebih baik katakana : “Rara, kuenya dibagi ya saying, kan enak kalau makan sama-sama”.
ORANG TUA JANGAN JADI PERAMAL
Sering orang tua meramalkan suatu kejadian yang belum terjadi atau sesuatu yang tidak nyata mengenai anaknya. “Kamu jangan panjat-panjat pohon itu nanti kalau jatuh kakimu bisa patah, nanti dibawa ke dokter”. Sebaiknya katakana saja : “Hati-hati ya kalau memanjat pohon itu”.
PAHAMI BAHASA TUBUH ANAK
Seringkali pada anak yang lebih kecil, bahasa tubuh orang tua yang bersifat non verbal bisa mengomunikasikan sesuatu karena kemampuan bahasanya memang masih terbatas. Misalnya : sikecil yang berusia 2 tahun tampak diam di suatu pojok dan wajahnya menegang. Orang tua hendaknya memancing anak untuk bicara : “Kenapa Dek, kamu PUP ya?”.
TIDAK DENGAN NADA CEPAT ATAU TERBURU-BURU
Saat berkomunikasi, perhatikan intonasi dan nada suara. Intonasi yang tidak jelas dengan nada terburu-buru bisa membuat anak jadi tidak “ngeh” dengan apa yang dibicarakan
Kematangan berpikir ini sejalan dengan meningkatnya usia. Menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi perkembangan, kemampuan berpikir anak 7 tahun ke bawah dengan 7 tahun ke atas memiliki perbedaan nyata. Anak di bawah 7 tahun ada dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret atau belum dapat berpikir secara abstrak. Kemampuan berbahasanya pun masih terbatas.
Sementara kemampuan berpikir anak di atas 7 tahun sudah berada pada tahap operasional. Ia sudah dapat memahami hal-hal yang abstrak. Pergaulan mereka semakin kompleks, tak hanya sebatas lingkungan keluarga tetapi juga teman bermain di luar keluarganya dan sering membuat kendala komunikasi (jarak) dengan orang tua. Di usia ini pada umumnya mereka lebih senang mencurahkan isi hatinya pada teman daripada pada orang tuanya.
Oleh karena itu, orang tua mesti memiliki siasat komunikasi berdasarkan temperamen dan kematangan berpikir anak. Bedakan kala berkomunikasi dengan si adik yang masih berusia 6 tahun dengan si kakak yang sudah berusia 9 tahun. Pada anak usia 6 tahun, orang tua bisa berkata, "Kalau Adek mengambil barang Nino, nanti Nino jadi sedih." Sedangkan untuk anak 9 tahun, orang tua bisa bicara dengan lebih abstrak : "Kamu nggak boleh mengambil uang Bunda tanpa izin. Itu namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa."