Mendidik Anak dengan Mitos?
Mengedepankan mitos sebagai alasan dari sebuah larangan, menurut Ade Irma Shalihah, Psi., adalah tindakan yang kurang tepat. Bagaimanapun, kata Staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta ini, mitos merupakan penjelasan yang bersifat tak logis. Kebenarannya masih perlu diuji. Apalagi, seringkali mitos dikaitkan dengan hal-hal gaib padahal anak belum bisa mencernanya.
Memang, kognisi anak usia prasekolah dalam memahami sesuatu sudah lebih berkembang dari sebelumnya. Dia sudah bisa diajak berinteraksi dan berkomunikasi. Namun, taraf berpikirnya masih tetap praoperasional, yakni butuh penjelasan konkret. Bila penjelasan yang diberikan sangat abstrak seperti halnya mitos itu, maka sulit bagi anak untuk memahami apa yang dijelaskan kepadanya.
Misalnya, ketika kita melarang anak memainkan beras karena nanti tangannya keriting, dia akan kesulitan mencerna alasan tersebut. Apa hubungannya antara memainkan beras dengan tangan keriting.
Karena penjelasan berupa mitos sulit dimengerti anak, akhirnya larangan atau perintah yang kita berikan menjadi tidak efektif. Anak yang suka duduk di atas bantal dan memainkan beras akan tetap melakukannya karena alasan larangan yang diberikan tidak bisa dicernanya dengan baik.
Agar larangan dan anjuran kita terhadap anak bisa dicerna secara efektif, pilihlah kata yang sederhana dan logis. Ketika ingin melarang anak duduk di depan pintu, misalnya katakan, "Kalau kamu duduk di depan pintu, nanti akan menghalangi orang lain yang akan lewat. Lihat, Mama tidak bisa lewat, kan?" bukan dengan mengatakan, "Nanti kamu susah jodoh, lo." Penjelasan "menghalangi jalan" jauh lebih efektif dibandingkan "susah jodoh" tadi. Atau, "Kalau kamu memainkan beras, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana, kan? Sayang, dong. Beras itu untuk dimasak jadi nasi dan dimakan oleh kita."
Ketika anak diberi alasan logis, maka mudah baginya untuk patuh terhadap larangan. "Benar, kalau aku duduk di depan pintu, Mama tidak bisa lewat," misalnya. Sangat mungkin dia juga tidak akan mengulanginya di lain waktu. Atau, "Wah benar juga nih, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana. Padahal, ini, kan, untuk makan kita semua."
Penjelasan secara logis juga mengajak anak untuk belajar merangkai hubungan sebab akibat yang merupakan dasar logika. Kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu karena orang lain tidak bisa lewat, jadi dia harus pindah.
Sebenarnya hal ini merupakan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi bagi anak keberhasilannya merangkai kejadian sebab akibat sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikirnya dan merangsang kecerdasannya.
Sebaliknya, kalau setiap hari anak dijejali mitos yang sulit dicerna, selain tidak efektif, ia pun tidak terlatih merangkai hubungan sebab akibat. Kemampuan berpikirnya juga tidak akan berkembang, karena sampai masa dewasanya ia akan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal yang tidak logis. Bisa saja, akan terbentuk pribadi yang selalu takut dan ragu menghadapi beragam persoalan yang sebenarnya sangat simpel. Kita sama-sama tahu bukan, penjelasan logis sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap persoalan.
Bila mitos ini terus-menerus diberikan kepada anak, tidak mustahil ia akan dibuat bingung. Mungkin saja, di kesempatan lain anak mendapat penjelasan yang berbeda, akibatnya ia bingung menentukan penjelasan mana yang harus dianggap benar. Pada akhirnya, kebingungan ini bisa mengganggu proses internalisasi baik ke dalam diri maupun lingkungannya.
Meskipun demikian, penjelasan logis yang diberikan tetap harus dalam batasan. Inilah alasannya:
* Harus disadari bahwa kemampuan berpikir anak usia prasekolah baru sampai di tahapan konkret. Jadi dalam memberikan penjelasan sertai dengan suasana dan benda konkret.
* Selain itu, kemampuan berbahasanya juga masih terbatas karena belum semua kata bisa dipahaminya dengan baik.
* Anak balita sangat berorientasi pada masa sekarang. Dia hanya mampu memperhatikan kejadian yang dialaminya saat ini.
Karena taraf berpikirnya yang masih seperti inilah maka ketika memberikan penjelasan kita harus memperhatikan beragam hal. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dan kiat menyiasatinya seperti dituturkan Ade:
Hindari penggunaan kalimat yang menimbulkan pertanyaan balik, misalnya, "Budi, jangan duduk di depan pintu!" Tidak adanya alasan hanya akan menimbulkan pertanyaan balik, "Kenapa tidak boleh?" Berarti harus ada kalimat lain untuk menjelaskannya agar anak memahami kenapa dia dilarang.
Hindari juga kalimat yang mengandung pilihan, "Kok, kamu senang banget duduk di depan pintu, kenapa enggak di teras saja?" Kalimat seperti ini akan membuat anak memilih mana yang paling disukainya, di depan pintu atau di teras. Bila dia lebih suka di depan pintu, anak tidak akan pindah dan tidak memahami akibat negatif duduk di depan pintu.
Jangan berpikir bahwa kitalah yang berkuasa dan boleh berkata semaunya. Hal ini akan membuat anak tidak nyaman berbicara kepada kita. Sebaiknya, berpikirlah bahwa anak harus diperlakukan secara lembut. Ketika kita ingin bicara dengannya, gunakan kata-kata yang halus, tidak bernada tinggi, marah, menghardik, dan sebagainya. Dengan bersikap seperti ini akan membuat anak merasa nyaman kala berbicara dengan kita.
Perhatian yang kita berikan juga seringkali membuat anak bersemangat untuk bicara. Caranya, misalnya dengan menyejajarkan tubuh dengan anak, melakukan kontak mata, atau mengulang apa yang dikatakan anak untuk memperoleh kejelasan. Dengan begitu, anak merasa bahwa apa yang dibicarakannya itu mendapat perhatian dari orang tuanya dan anak tidak canggung lagi ketika nanti ingin berbicara kembali.
Banyak.. kan, orang tua yang tidak tahu bagaimana cara berbicara yang baik dengan anak. Ketidaktahuan inilah yang sering membuat hubungan antara orang tua dengan anak tidak berjalan harmonis. Orang tua selalu berbicara dengan caranya yang padahal sama sekali tidak sesuai dengan keinginan anak.
sumber: http://www.lptcindo.com/tips-psikologi/item/24-mendidik-dengan-mitos-bolehkah?.html
0 komentar:
Posting Komentar