er Pendidikan Guru TK - Guru Taman Kanak Kanak

6 Aspek Utama Tumbuh Kembang Anak

Aspek perkembangan anak dapat terbagi dalam 6 bagian besar. Satu sama lain saling mempengaruhi. Jika salah satu aspek terhambat perkembangannya, maka akan menghambat perkembangan kelima aspek lainnya.
Pertumbuhkembangan anak yang optimal jika keseluruhan aspek berkembang dengan baik dan sesuai dengan usia. Pola pengasuhan dan peran orang tua sangat besar dalam hal ini. Dukungan dan bantuan orang tua adalah dasar yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh aspek secara optimal.

Apa sajakah 6 aspek tumbuh kembang anak tersebut?

1. Aspek Motorik Kasar
Adalah kemampuan anak untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup geraka gerakan otot besar. Perkembangan motorik kasar dapat dilihat dari kemampuan anak untuk merangkak, berjalan, berlari, melompat, memanjat, berguling, berenang dan sebagainya.

2. Aspek Motorik Halus
Adalah kemampuan anak untuk mengontrol keluwesan jemari tangan yang dapat dilihat dari kemampuan untuk menyentuh, menjumput, meraih, mencoret, melipat, memasukan benda atau makanan ke dalam mulut dan sebagainya.

3. Aspek Kognitif
Adalah kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan dan mengkategorikan informas-informasi yang diperolehnya melalui panca indera. Kemampuan ini selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berfikir logis yang selanjutnya menentukan apakah anak mampu memahami lingkungannya.

4. Kemampuan Bahasa
Sebagai mahluk sosial, sejak bayi anak telah bisa berkomunikasi untuk menyatakan perasaan dan keinginannya, yaitu dengan tangisan, tertawa dan mengoceh yang merupakan awal dari perkembangan bahasa. Selanjutnya anak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Kemampuan bahasa selain membantu anak untuk memahami apa yang dikatakan orang-orang disekitarnya, juga untuk dapat dipahami oleh orang lain. Perasaan mampu memahami dan dipahami dapat menumbuhkan rasa percaya diri.

5. Aspek Emosi
Adalah kemampuan anak untuk mengenali berbagai hal yang dirasakannya, mengekspresikan perasaan dalam bentuk yang dapat diterima oleh lingkungannya, serta kemampuan untuk mengendalikan dan mengatasi perasaannya. Kematangan emosi tidak terjadi dengan sendirinya tapi secara bertahap dan sangat membutuhkan peran serta orang tua dan lingkungan sosial.

6. Aspek Sosial
Adalah kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memberi respon pada orang lain dan berbagi. Pengalaman sosial anak hanya dapat tumbuh dan berkembang dari pengalamannya dengan orang-orang terdekat. Pola asuhan dan arahan orang tua sangat penting dalam perkembangan aspek sosial anak.

Ajarkan Dunia Anak Berhitung Sejak Dini

Sejak kapan ya anak-anak belajar matematika? Sebagai orangtua perlu kita ketahui, bahwa saat menjelajahi kehidupan sehari-hari dengan menjelajahi dan menemukan benda-benda di sekitarnya, anak-anak kita sudah di hadapkan pada dunia berhitung/matematika.

Berhitung atau matematika memang semakin penting pada zaman teknologi saat ini. Sehingga, makin penting anak-anak belajar matematika. Meskipun, kebanyakan anak-anak seusia SD hingga SMP kadang bertanya-tanya apakah berhitung itu diperlukan? dan sudah dihadapi di dalam kehidupan nyata.

Gunakan benda-benda di rumah.
Nah, berbeda dengan mengajarkan matematika pada anak balita, tentunya, mereka tidak mungkin untuk diajarkan perkalian, pembagian, ataupun algoritma dalam bentuk baku. Mereka perlu diajak dalam kegiatan itu, namun caranya harus menyenangkan dan menarik. "Gunakan benda-benda yang ada di rumah. Sehingga mereka tidak merasa sedang melakukan pelajaran matematika," tutur Irene Mongkar, pakar psikologi anak.


Selama melakukan kegiatan berhitung atau matematika itu pastikan anak merasa senang. Sehingga akan membantu anak mengembangkan keterampilan yang ia perlukan. Misalnya, libatkan ia dalam menghitung cucian yang akan dijemur. Atau membantu menghitung jumlah buah yang akan di cuci, ataupun menghitung jumlah popok yang ia punya.

"Sambil menyusun buku, tanya ada berapa jumlah buku yang ia punya, pensil, juga perlengkapan lainnya. Ataupun menggunakan cara lain, yakni dengan kartu bermain," tutur Irene.

Seperti apa? Di setiap karton besar (sebesar buku gambar) tuliskan angka (dengan spidol besar) di bagian atas. "Semisal Anda menuliskan angka lima (5) bola. Maka minta ia untuk mengambar bola sebanyak angka yang Anda maksud. Ataupun jumlah lainnya dengan objek lainnya yang mudah," imbuhnya. Tentunya sebelum meminta ia menuliskan, perlu mengenalkan angka 1 hingga 10 dalam bentuk gambar bola ataupun segititiga.

Setelah mereka mengerti barulah digunakan teknik penambahan dan pengurangan. Misal menambah karton dengan gambar lima bola dan karton gambar dua bola. Lakukan juga untuk pengurangan. Lalu, minta mereka untuk menuliskan hasilnya di karton polos tersendiri. 

Hebatnya Mind Mapping Untuk Anak

Dalam buku pintar Mind Map untuk anak ini, Tony Buzan (Invetor Mind Maps) menjelaskan cara-cara agar anak bisa meraih keberhasilan di sekolah, termasuk cara gampang memahami berbagai mata pelajaran, membuat karangan, dsb. Tony Buzan juga menjabarkan cara efektif untuk menguasai hal-hal di luar pelajaran, misalnya cara mengatur kamar tidur, menyelenggarakan pesta ulang tahun.

Perlu diketahui bahwa belajar Mind Mapping bukan hanya milik orang dewasa tetapi juga bagus dikembangkan dan diterapkan untuk anak karena dengan menggunakan Mind Map anak akan BISA:

  • Meningkatkan ingatan dan konsentrasi
  • Menghemat waktu dalam mengerjakan PR, karena waktu yang diperlukan cuma setengah dari waktu yang biasa diperlukannya.
  • Membuat catatan yang lebih jelas dan mudah dipahami.
  • Lebih mudah berkonsentrasi.
  • Lebih mudah mengingat fakta dan angka.
  • Mengulang pelajaran dengan gembira dan senang
  • Lebih mahir merencanakan jawaban ujian dengan tenang selama ujian!
  • Mudah meraih nilai bagus dalam ujian!

Keahlian Tony Buzan mengeksplorasi otak setara dengan keahlian Stephen Hawking mengeksplorasi jagat raya.

Ciri Gaya Belajar Tipe Visual

Anak yang mempunyai gaya belajar tipe visual adalah gaya belajar yang dominan mengandalkan visual.





Ia memiliki ciri seperti :
  • Berbicara dengan cepat
  • Pengeja yang baik
  • Teliti terhadap yang detail
  • Pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca ketimbang dibacakan
  • Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar
  • Pelupa dalam menyampaikan pesan verbal
  • Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat
  • Senang terhadap seni daripada musik
  • Sukar atau tidak pandai memilih kata-kata ketika berbicara
  • Senang memperhatikan melalui demonstrasi daripada ceramah.
  • Pembawaannya rapi dan teratur.
  • Suka mengantuk bila mendengarkan penjelasan yang panjang lebar
Tips efektif cara belajarnya adalah dengan dibantu kombinasi peraga visual, gambar atau simbol-simbol.

Apakah anak Anda mempunyai ciri-ciri seperti di atas?

Ciri Gaya Belajar Tipe Auditorial

Anak yang mempunyai gaya belajar tipe auditorial adalah gaya belajar yang dominan mengandalkan pendengaran.

Tipe auditorial memiliki ciri seperti:
  • Berbicara dengan diri sendiri saat bekerja atau belajar
  • Menggerakkan bibir mereka ketika membaca dan mendengarkan.
  • Pandai dalam menyampaikan pesan verbal
  • Dapat mengulangi dan meniru nada, birama atau warna suara tertentu ketika bercerita.
  • Memiliki kesulitan ketika menulis tapi pandai bercerita dan fasih ketika berbicara
  • Senang berdiskusi, berbicara dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar
  • Lebih senang musik dari pada seni yang melibatkan visual

Tips efektif cara belajar tipe auditorial adalah sering diajak diskusi atau menyampaikan sesuatu atau pendapatnya mengenai pelajaran.

Apakah anak Anda mempunyai ciri-ciri seperti di atas?

16 Masalah Umum Bagi Dunia Anak Pelajar Di Dunia

Dari berbagai masalah yang di teliti, ternyata setelah disimpulkan ada 16 masalah umum yang dihadapi pelajar/murid di seluruh dunia.

16 permasalahan umum itu adalah :
  1. Ingatan yang buruk
  2. Penangguhan
  3. Kelasan
  4. Kecanduan game komputer, TV & internet
  5. Sulit memahami yang diajarkan
  6. Mudah bingung
  7. Perhatian singkat
  8. Melamun di kelas
  9. Cemas ujian
  10. Membuat kesalahan yang ceroboh
  11. Tekanan dari orang tua
  12. Terlalu banyak yang dipelajari hingga tidak cukup waktu
  13. Kurang motivasi
  14. Gampang menyerah
  15. Guru-guru yang membosankan
  16. Tidak tertarik pada apa yang dipelajari

Apakah anak-anak kita ada yang termasuk di dalamnya? semoga tidak yaa..

Sumber : Buku Pintar "Anak Jenius" (Adam Khoo)