er Februari 2011 | Pendidikan Guru TK - Guru Taman Kanak Kanak

Ciri-Ciri Masa Awal Kanak-Kanak

Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap tahap perkembangan, begitu juga pada saat masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu, menurut Hurlock (1980:108) ciri itu tercermin dalam sebutan yang biasa diberikan oleh para orang tua, pendidik, da ahli psikologi:
a) Sebutan Yang Digunakan Orang Tua. Ada beberapa sebutan untuk menggambarkan masa kanak-kanan, sebutan tersbeut berkisar tentang perilaku dan aktivitas yang dilakukan anak-anak, pada sebagian besar orang tua menganggap awal masa pada kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Selain itu pada sebagian orang tua juga menganggap usia awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak mudah menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya.
b) Sebutan Yang digunakan Para Pendidik. Sedangkan para pendidik menyebut usia awal kanak-kanak sebagai usia prasekolah, usia pra sekolah adalah usia yang belum memasuki usia sekolah atau masih berada di taman kanak-kanak, kelompok bermain, atau penitipan anak-anak.
c) Sebutan Yang Digunakan Ahli Psikologi. Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun awal masa kanak-kanak.

Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa di mana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ingin mngetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya, ini termasuk manusia dan benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang lain, oleh karena itu periode ini juga disebut usia meniru. Namun kecenderungan ini nampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan masa-masa lain dalam kehidupannya, dengan alasan ini para ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif.

Menurut Yusuf (2002) pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik; a) Masa Vital. Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar. b) Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini, perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya.
Rujukan Buku :
Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd,
Hurlock, Elizabeth B., 1976 Developmental Psychology New Delhi: Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Ltd,

Peranan Orangtua Dalam Pendidikan PraSekolah

Anak dalam proses perkembangannya menuju kepada kedewasaan memerlukan perhatian dari kaum pendidik, hal ini dimaksudkan untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan anak agar ia tumbuh menjadi manusia mandiri.

Setiap perkembangan manusia bukan dimulai dari perkembangan “aku” tetapi dari “kita” (undifferentiated), karena diasuh oleh dan bergantung kepada manusia yang lain. Karena adanya manusia lain itulah, manusia berkembang. Sosialisasi dimulai dengan adaptasi terhadap lingkungannya yang merupakan suatu ikatan yang esensial untuk eksistensi psikisnya. Society lives through him, dan setiap diri terwujud melalui lingkungannya. Perkembangan sosial seseorang adalah perjuangannya untuk menjadi suatu identitas dengan hak-hak dan kewajibannya dalam mempertahankan dan menyatakan dirinya.

Manusia belajar, tumbuh, dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya melalui kehidupan keluarga, untuk sampai pada penemuan bagaimana ia menempatkan dirinya ke dalam keseluruhan kehidupan. Pendidikan anak sangat penting dimulai dari lingkungan keluarga karena dari rumahlah ditumbuhkan rasa kepedulian, kesadaran, dan pengertian dasar tentang totalitas lingkungan. Dari sinilah orang tua harus belajar memahami setiap pertumbuhan anak agar sesuai dengan kebutuhan si anak.
Diperlukan sensitivitas dari orang tua terhadap berbagai ciri serta perubahan fisik dan mental yang terjadi pada umur anak, terutama yang berkenaan dengan segi emosionalnya. Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan biologis (sandang, pangan, papan) serta kebutuhan psikologis (rasa aman, self esteem, dan kasih sayang) harus terpenuhi untuk mewujudkan aktualisasi dari potensinya.
Interaksi dalam lingkungan keluarga ikut menentukan arah dari perkembangan anak, yaitu peluang keserasian belajar pada setiap masa peka. Contoh pada bayi umur 0-2 tahun : kepekaan utama terletak pada latihan alat indera, motorik dan perluasan perkembangan bahasanya. Setiap pengalaman langsung dihayatinya sebagai pengalaman yang amat mendalam (peak experience), dan sangat berpengaruh terhadap kesan dan sikap kehidupan anak kelak (terutama pada umur 3-5 tahun), yaitu suatu penyesuaian diri yang bersikap aktif dan selektif.

Perlu diingat bahwa setiap anak lahir dengan bakat, potensi, kemampuan, talenta serta sikap dan sifat yang berbeda. Karenanya potensi anak yang sangat beragam dalam berbagai bidang dengan berbagai taraf dan jenis inteligensi, yang dibesarkan pula dalam berbagai kondisi ekonomi, sosial, psikologis, budaya, serta alam biologis yang berbeda, harus diupayakan dipenuhi kebutuhannya oleh keluarga agar bimbingannya terjadi sesuai dengan taraf perkembangan anak (developmentally appropriate practice).
Pendidikan keluarga adalah wahana yang mendasar untuk meningkatkan bentuk yang lebih harmonis dari perkembangan manusia. Oleh karenanya, selayaknya kehidupan keluarga menjadi kepedulian semua pihak, pemerintah dan masyarakat. Kesadaran tentang hal ini akan membawa kehidupan masyarakat kepada suatu taraf yang menjadikan keluarga pilar yang menentukan bagi kemajuan umatnya. (disadur dari buku “Penerapan Pembelajaran Pada Anak” Conny R. Semiawan)

Orientasi Moral Anak Taman Kanak Kanak

Pola Orientasi Moral Anak Taman Kanak-kanak
Pada usia Taman Kanak-kanak anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh cognitive motivation aspects dan affective motivation aspects.
Menurut John Dewey tahapan perkembangan moral seseorang akan melewati 3 fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous. Anak Taman Kanak-kanak secara teori berada pada fase pertama dan kedua. Oleh sebab itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan perkembangan moral tersebut. Sedangkan menurut Piaget, seorang manusia dalam perkembangan moralnya melalui tahapan heteronomous dan autonomous.

Seorang guru Taman Kanak-kanak harus memperhatikan tahapan hetero-nomous karena pada tahapan ini anak masih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus-menerus.

Moralitas anak Taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari sikap dan cara berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan perilaku anak dapat memperlancar hubungannya dengan orang lain.

Penanaman moral kepada anak usia Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara dan lebih disarankan untuk menggunakan pendekatan yang bersifat individual, persuasif, demokratis, keteladanan, informal, dan agamis.

Beberapa program yang dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak dalam rangka menanamkan dan mengembangkan perilaku moral anak di antaranya dengan bercerita, bermain peran, bernyanyi, mengucapkan sajak, dan program pembiasaan lainnya.


Pengembangan Kemampuan Kepribadian/Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak

Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya.

Puncak yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak Taman Kanak-kanak adalah adanya keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman disekitarnya.

Hal yang bersifat substansial tentang pengembangan moral anak usia Taman Kanak-kanak di antaranya adalah pembentukan karakter, kepribadian, dan perkembangan sosialnya. Guru Taman Kanak-kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial, moral dan agama bagi anak Taman Kanak-kanak. Juga, guru Taman Kanak-kanak perlu untuk senantiasa mengadakan penelitian tentang pengembangan dan inovasi dalam bidang pendidikan bagi anak usia prasekolah.

TAHAP PERKEMBANGAN MORAL ANAK TAMAN KANAK-KANAK

Tahapan Perkembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Ruang lingkup tahapan/pola perkembangan moral anak di antaranya adalah tahapan kejiwaan manusia dalam menginternalisasikan nilai moral kepada dirinya sendiri, mempersonalisasikan dan mengembangkannya dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta dalam mematuhi, melaksanakan/ menentukan pilihan, menyikapi/menilai, atau melakukan tindakan nilai moral

Menurut Piaget anak berpikir tentang moralitas dalam 2 cara/tahap, yaitu cara heteronomous (usia 4-7 tahun ), di mana anak menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia (lingkungan) yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia dan cara autonomous (usia 10 tahun keatas) di mana anak sudah menyadari bahwa aturan-aturan dan hukum itu diciptakan oleh manusia.

Menurut Kohlberg, perkembangan moral anak usia prasekolah berada pada level/tingkatan yang paling dasar, yaitu penalaran moral prakonvensional. Pada tingkatan ini anak belum menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Pertimbangan moralnya didasarkan pada akibat-akibat yang bersifat fisik dan hedonistik.

Ada 4 area perkembangan yang perlu ditingkatkan dalam kegiatan pengembangan atau pendidikan usia prasekolah, yaitu perkembangan fisik, sosial emosional, kognitif dan bahasa.


Perkembangan Moral Anak Indonesia

Anak Indonesia memiliki perkembangan moral yang tidak jauh berbeda dengan anak di dunia pada umumnya. Faktor-faktor pembentuk munculnya perbedaan moral manusia diantaranya kenyataan hidup, tantangan yang dihadapi, dan harapan yang dicita-cita oleh komunitas manusia itu sendiri.

Masalah yang paling penting dalam pendidikan moral bagi anak Indonesia adalah bagaimana upaya kita sebagai seorang guru Taman Kanak-kanak agar setiap perbedaan yang muncul dapat kita arahkan menjadi suatu materi pendewasaan sikap dan perilaku anak dalam sosialisasinya. Tidak ada salahnya kita sisipkan pendidikan multikultur kepada anak usia Taman Kanak-kanak sesuai dengan tingkat dan pemahaman mereka.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Haruskah Anak TK Bisa Membaca dan Menulis

Berbicara tentang anak TK, hingga saat ini, kita kerapkali mendengar polemik mengenai boleh tidaknya mengharuskan anak-anak TK untuk bisa membaca dan menulis. Pendapat yang mengharuskan anak TK bisa baca tulis, biasanya dilatar belakangi oleh keinginan untuk bisa masuk SD dengan mudah karena pada saat tes masuk SD, ada banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Sedangkan pendapat yang berlawanan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa mengharuskan anak TK bisa membaca dan menulis, berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Hal ini membuat aktivitas bermain anak yang seyogyanya dominan untuk usia mereka, menjadi berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan anak secara optimal kelak kemudian hari.

Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti, karena masing-masing pendapat, tampak memiliki alasan yang cukup kuat.
Dalam menyikapi hal ini, sudah selayaknyalah kita mempertimbangkan alasan-alasan yang melatarbelakangi kedua pendapat tersebut, untuk kemudian mencari jalan tengah yang dapat menjadi sebuah solusi yang bijaksana bagi anak. Bukankah kita sebagai orangtua atau guru memang menginginkan potensi dan kemampuan anak dapat tumbuh optimal melalui stimulasi pendidikan atau pengajaran yang kita berikan kepada mereka?
Berbicara tentang pendidikan anak usia dini, Sebenarnya sah-sah saja mengajarkan pelajaran baca tulis pada anak-anak TK, asalkan anak sudah siap untuk menerima pelajaran tersebut atau biasa disebut sebagai sudah muncul masa pekanya. Adanya kesiapan atau kepekaan tersebut, biasanya muncul pada usia sekitar 4 – 6 tahun. Hal ini misalnya ditandai dengan adanya ketertarikan anak pada kegiatan-kegiatan pra membaca dan pra menulis seperti adanya kematangan visual motorik untuk dapat memegang alat tulis dengan benar atau meniru beberapa bentuk sederhana, kemampuan memusatkan perhatian, keinginan atau minat yang kuat untuk melihat gambar-gambar/tulisan di buku atau sekedar membuka-buka buku/majalah, senang bermain dengan huruf-huruf, dsb.

Selain memperhatikan masa peka anak untuk belajar baca tulis, penting pula untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pelajaran baca tulis tersebut. Mengacu pada karakteristik umum anak TK, dimana aktivitas bermain menjadi aktivitas dominan mereka, maka perlu diingat bahwa dalam memberikan pelajaran baca tulis pada anak TK hendaknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan anak dan tidak memaksa anak. Pendekatan informal dimana pelajaran disampaikan dalam koridor bermain tampaknya menjadi sesuatu yang cocok untuk diterapkan pada pengajaran baca tulis anak-anak TK. Pendekatan informal yang dapat dilakukan, misalnya membacakan buku cerita sambil memperlihatkan gambar dan tulisan di buku/majalah yang sedang dibacakan, menempelkan gambar-gambar yang berhubungan dengan huruf atau tulisan pada ruang bermain atau kamar tidur anak, mecoba meniru bentuk lingkaran/garis atau huruf tertentu, mengajak anak menonton film yang bersifat mendidik sekaligus menghibur sehubungan dengan pelajaran baca tulis, bermain tebak-tebakan huruf, menelusuri bentuk huruf dengan jari, dsb.

Proses belajar menuju kemampuan baca tulis pada anak TK sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan formal, seperti layaknya anak-anak SD. Karena hal ini dikhawatirkan akan membuat anak merasa tertekan dan jenuh, mengingat kemampuan anak untuk bisa berkonsentrasi pada satu topik bahasan biasanya masih sangat terbatas dan secara umum anak masih berada dalam dunia bermain. Apalagi bila dalam memberi pelajaran tersebut dilakukan dengan kekerasan, misalnya disertai dengan bentakan-bentakan, hinaan atau ejekan manakala anak belum mampu mengikuti pelajaran baca tulis yang diberikan, maka bukan tidak mungkin anak akan tumbuh menjadi anak rendah diri, yang justru hal ini akan menghambat perkembangan kemampuannya secara optimal kelak kemudian hari.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan bermain sambil belajar, merupakan cara terbaik menuju kemampuan baca tulis pada anak TK. Guru dan orang tua hendaknya saling bekerjasama untuk dapat memberikan cara belajar dan mengajar yang sesuai untuk anak-anak TK mereka. Orangtua atau guru perlu menyesuaikan cara mengajar baca tulis sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap anak.
Mengharuskan semua anak TK untuk bisa baca tulis, tampaknya menjadi hal yang kurang bijaksana mengingat setiap anak memiliki kemampuan dan kesiapan belajar baca tulis yang berbeda satu sama lainnya. Sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang penting untuk dapat diajarkan pada anak TK, ketimbang hanya terfokus pada kemampuan baca tulis semata, misalnya penanaman disiplin, kemandirian, tanggung jawab serta budi pekerti yang baik. Stimulasi terhadap kecerdasan intelektual anak, seperti pada kegiatan baca tulis, memang penting, namun perlu diupayakan jangan sampai stimulasi terhadap kecerdasan intelektual terlalu berlebihan sehingga cenderung memaksakan anak dan melupakan aspek-aspek kecerdasan lain yang juga perlu mendapat stimulasi seperti kecerdasan sosial, emosional, dsb, yang semuanya sangat diperlukan agar dapat menjadi bekal bagi anak dalam menghadapi masa depannya kelak
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Metode Membangun Pengetahuan pada Anak TK

Perlunya Pemahaman mendalam bagi guru Taman Kanak-kanan dalam membangun pengetahuan pada anak. Guru terlebih dahulu harus memahami inti dari setiap pengetahuan yang akan dibangun pada anak. Karena pengetahuan di dapat dari interaksi terhadap lingkungan sekitar. Dalam membangun pengetahuan pada anak, guru juga harus memperhatikan tahap perkembangan kognitif anak yang sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam berpikir. Guru harus memiliki keterampilan dalam membangun pengetahuan sesuai dengan kemampuan berpikir anak. Perubahan merupakan proses bukan hasil, oleh karena itu dalam membangun pengetahuan pada anak untuk memahami proses sangatlah sulit, karena diperlukan lingkungan yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak. Misalnya, jika anak melihat seekor kucing berlari ke belakang pohon, diharapkan bahwa anak tidak berpikir kucing itu hilang begitu saja, tetapi diharapkan anak mampu menjelaskan posisi kucing itu sekarang. Artinya anak juga mampu membuat perbedaan antara tidak ada dengan tersembunyi.

Membangun pengetahuan pada anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Membangun pengetahuan pada anak haruslah berdasarkan kepada bermain dan permainan. Dengan melalui kegiatan bermain anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang diperlukan untuk persiapan masa depan. Bermain antara lain membantu perkembangan tubuh, perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan kognitif dan moral serta kepribadian maupun bahasa. Bermain juga bisa dijadikan media untuk membina hubungan yang dekat antar anak, atau anak dengan orang tua/guru/orang dewasa lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Pada usia anak di taman kanak-kanak, guru harus memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk perkembangan diri kelak, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Selain itu, seorang anak akan menghadapi berbagai tugas perkembangan, seperti belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya, membentuk konsep diri yang baik, mulai mengembangkan peran sosial sesuai gender-nya serta mengembangkan hati nurani, akhlak dan tata nilai pengertian. Pada masa itu pula seorang anak tidak saja membutuhkan bimbingan dari orang tua, tetapi juga guru, tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan juga teman-teman. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar juga memegang peran kritis, tidak seperti ketika berusia balita, dimana pengalaman belajar tersebut dilakukan hanya dengan bantuan orang tua dan orang di sektar lingkungan terdekatnya.

Salah satu cara anak agar proses belajar mereka memperoleh pengetahuan adalah melalui kegiatan bermain sambil belajar. Dengan bermain dan belajar, seorang anak akan memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru. Belajar dan bermain bagi mereka juga merupakan sarana dalam mengembangkan berbagai keterampilan sosialnya. Kegiatan bermain dan belajar mereka akan mengembangkan otot dan melatih gerakan motorik mereka di dalam penyaluran energi yang berlebih. Dengan adaanya kegiatan belajar dan bermain, seorang anak akan menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan dan pada akhirnya seorang anak akan menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Khusus mengenai pemahaman tentang peranan guru sebagai orang terdekat anak di sekolah harus pula dirubah. Guru tidak lagi sebagai orang dewasa dan pembimbing yang hanya mengatur dan menjalankan kurikulum. Guru adalah orang dewasa sangat harus disukai anak. Peran guru sebagai teman, model, motivator, dan fasilitator akan menjadikan anak senang datang ke sekolah TK dan akan menjadikan setiap proses belajar menjadi bermakna. Inilah yang akan selalu dituntut oleh masyarakat di era pengetahuan di mana guru menjadi seorang profesional. Ia juga akan dituntut kematangan yang mempersyaratkan willingness dan ability, baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi seperti ini harus dipandang sebagai proses yang terus menerus.

Metode yang Digunakan pada Pengembangan Kognitif

Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Setiap guru TK menggunakan metode sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak selamanya metode berfungsi secara optimal. Oleh karena itu dalam memilih metode, guru TK perlu memiliki alasan yang kuat dan perlu memperhatikan karakteristik tujuan dan karakteristik anak yang dibinanya.
Sesuai dengan karakteristik, tidak semua metode mengajar cocok digunakan pada program kegiatan anak TK, seperti metode ceramah, kurang cocok karena menuntut anak memusatkan perhatian dalam waktu cukup lama, padahal rentang waktu perhatian anak relatif singkat.
Metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia TK adalah: bermain, pemberian tugas, demonstrasi, tanya jawab, mengucapkan syair, percobaan, bercerita, karyawisata, dan dramatisasi.

Evaluasi Pengembangan Kognitif
Evaluasi pada pengembangan kognitif bertujuan untuk mengukur kemampuan pelaksanaan pada perkembangan kognitif, serta mengetahui masalah yang berkaitan dengan proses belajar anak didik.
Alasan diadakannya evaluasi pada pengembangan kogitif adalah:
1) Karena merupakan salah satu rangkaian proses mengembangkan kognitif anak, maka evaluasi harus dilakukan. 2) Evaluasi diadakan dengan tujuan yang didasarkan pada pengharapan (ukuran keberhasilan) setiap individu yang berbeda sehingga evaluasi harus dilakukan berdasarkan ukuran keberhasilan yang berbeda pula. 3) Melalui evaluasi dapat ditentukan tingkat ketercapaian tujuan.
Alat evaluasi yang dapat digunakan untuk mengetahui pengembangan kognitif anak TK adalah:
1) Observasi 2) Catatan anekdot 3) Portofolio (Kumpulan kerja anak) 4) Assesmen kinerja
5) Assesmen kemampuan 6) Assesmen diri

Media dalam Pengembangan Kognitif

Media adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang daya pikir, perasaan, perhatian, dan kemampuan anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada diri anak. Pemahaman disini tidak hanya terbatas kepada sarana dan wahana fisik untuk menyalurkan pesan melainkan juga mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia, dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran.

Media pembelajaran yang baik sangat diperlukan untuk mencapai pembelajaran yang berkualitas tinggi. Media yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan kognitif harus berdasarkan asumsi bahwa kondisi pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang berbeda memerlukan media yang berbeda. Asumsi ini banyak diabaikan oleh guru yang berakibat pada rendahnya kualitas pemahaman yang diterima anak.

Dengan demikian kita bisa memahami pula bahwa media yang digunakan haruslah mampu membawa anak kepada dunia mereka. Dunia anak adalah dunia bebas dan murni untuk menciptakan berbagai hal yang kreatif, berekspresi, bermain, dan belajar. Jikapun Anda akan mengajarkan belajar baca, tulis dan hitung bagi anak Anda maka Anda tentu harus melalui kegiatan yang menyenangkan dan tidak formal sehingga dirasakan sebagai bagian dari kegiatan bermain. Janganlah hal itu seperti dipaksakan sebab bila hal itu terjadi maka akan membuat psikis anak menjadi sakit. Anak-anak TK perlu belajar secara konstruktif, terus-menerus mengembangkan kemampuan melalui permainan, melalui hal kongkret yang dapat dijangkau panca indra anak secara dekat.

Keterlibatan yang bisa Anda lakukan terhadap anak Anda haruslah berorientasi kepada kegiatan pemecahan masalah sederhana, pengembangan keterampilan kognitif seperti bercerita, pengembangan kemampuan mengurus diri sendiri, menggambar bebas, menasosialisasikan tulisan dengan bunyinya mendengarkan, dan bergerak bebas. Misalnya saja, Budi yang menggambar tanpa kita tahu artinya, kita beri kebebasan dia mengekspresikan hasil gambarnya dengan cerita verbalnya

Dunia pendidikan taman kanak-kanak sangat mengharapkan kehadiran media pembelajaran yang mampu mengembangkan domain kognitif anak yang bermutu tinggi. Kehadiran media seperti ini tidak bermakna apapun jika guru tidak mampu mengembangkan dan menggunakannya secara maksimal. Oleh karena itulah guru masih memiliki peranan dominan dalam menarik minat belajar anak serta mendukung perkembangan anak.

Pembelajaran di TK memang membutuhkan berbagai alat peraga, media, permainan, dan alat bantu lainnya karena memang usia anak sekolah di TK masih membutuhkan hal itu semua. Oleh karena itu guru TK harus lebih kreatif, imajinatif, dan komunikatif dalam menciptakan atau menemukan berbagai alat permainan dan media untuk anak mereka.

Masalah aplikasi dalam penggunaan media dan pengajaran di TK adalah masalah yang harus berdasarkan dengan kehidupan yang sesungguhnya dan harus membantu anak-anak menyadari bahwa pelajaran dan permainan yang mereka peroleh merupakan satu proses yang berguna dan penting. Apabila suatu masalah diberikan, anak-anak bisa melihat manfaatnya.

Sumber :
* Buku Metode Pengembangan Kognitif Karya Rini Hildayani

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

cerita anak, dongeng anak, dan cerita rakyat

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.





Kerbau dan Kambing



Kerbau dan KambingSeekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya.

Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, "Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Tips Buat Guru Saat Mengajar Disekolah

Mengajar Banyak Murid
Sebentar lagi sekolah dimulai dan untuk para rekan-rekan pengajar harus mempersiapkan diri untuk mengajar kelas dengan jumlah murid yang bervariasi. Kelas yang terdiri dari beberapa murid saja akan lebih mudah untuk diatur, sedangkan apabila murid berjumlah banyak, seorang guru harus mempersiapkan strategi agar materi yang diajarkan dapat diterima dan dimengerti oleh seluruh murid.

Pada saat tahun ajaran baru dimulai, cobalah untuk menumbuhkan dan menciptakan suatu sikap belajar yang baik di antara guru dengan murid. Jelaskan pula beberapa aturan yang jelas dan dapat dimengerti oleh murid, seperti:

* Mereka harus belajar dalam suasana tenang.
Berikan pengertian bahwa suasana belajar dan mengajar yang tenang akan membantu guru untuk dapat mengajar dengan baik dan murid mengerti pelajaran yang diajarkan.
* Murid boleh berbicara, bicara dengan volume suara kecil; tidak menganggu proses belajar mengajar.
Berikan pengertian bahwa disaat guru menerangkan, murid hendaknya mendengarkan. Namun apabila keadaan mendesak dan murid harus berbicara dengan teman sebelahnya, sebaiknya dilakukan dengan berbicara pelan.
* Bagi murid yang sudah mengerjakan tugasnya, sibukkan mereka dengan membaca buku.
Saat murid sudah selesai mengerjakan tugas kelasnya, berikan tugas lain kepada mereka seperti membaca buku. Dengan demikian mereka tidak akan mengganggu murid lain yang belum selesai.
* Pergunakan suasana diluar kelas untuk menghindari kebosanan murid di dalam kelas.
Kegiatan ini dapat dilakukan sekali-sekali agar kegiatan belajar menjadi tidak monoton. Caranya ajak sebagian murid keluar kelas dan ajarlah mereka di udara terbuka sedangkan sebagian murid lainnya tetap ada di kelas. Setelah beberapa saat lakukan hal ini bergantian dengan kelompok yang ada didalam kelas. Cara ini sebaiknya dibantu dengan asisten pengajar sehingga murid tetap terkontrol.
* Manfaatkan belajar kelompok.
Buatlah beberapa kelompok yang terdiri dari 5 sampai 8 murid. Tunjuk seorang ketua dalam masing-masing kelompok untuk bertanggungjawab atas kelompoknya. Dengan demikian dapat membantu guru memonitor situasi belajar mengajar.

Semoga tips diatas membantu dan "Selamat memulai tahun ajaran baru!"
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Ciri TK atau Anak Prasekolah

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma- norma kelompok, moral, dan tradisi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma- norma kehidupan bermasyarakat.Dalam proses perkembanganya ada ciri- ciri yang melekat dan menyertai anak- anak tersebut. Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya ada TK. Ciri-ciri yang dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif anak.

1) Ciri Fisik Anak Prasekolah Atau TK. Penampilan maupun gerak gerik prasekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. a) Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. b) Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak. c) Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil, belum bisa melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya, mengikat tali sepatu. d) Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna. e) Walaupun tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft). Hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya, sebaiknya dilerai, sebaiknya dijelaskan kepada anak-anak mengenai bahannya. f) walaupun anak lelaki lebih besar, anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil, jauhkan dari sikap membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam kompetisi ketrampilan seperti apa yang disebut diatas.

2) Ciri Sosial Ciri Anak Prasekolah atau TK a) Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda. b) Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti. c) Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among praschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, dapat membedakan beberapa tingkah laku sosial: a) Tingkah laku unoccupied anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun. b) Bermain soliter anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan, berbeda dari apa yang dimainkan oleh teman yang berada di dekatnya, mereka berusaha untuk tidak saling berbicara. c) Tingkah laku onlooker anak menghasilkan tingkah laku dengan mengamati. Kadang memberi komentar tentang apa yang dimainkan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama. d) Bermain pararel anak-anak bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain bersama dengan anak lain, mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara tidak saling bergantung. e) Bermain asosiatif anak bermain dengan anak lain tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri. f) Bermain Kooperatif anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi. Ada pemimpinannya, masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan, misalnya main toko-tokoan, atau perang-perangan.

3) Ciri Emosional Pada Anak Prasekolah atau TK. a) Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut. b) Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

4) Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK a) Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik. b) Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut: a) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak. b) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak. c) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal. c) Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri. e) Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku. f) Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya. g) Kagumilah apa yang dilakukan anak. h) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Belajar Sambil Bermain atau Bermain Sambil Belajar

Proses pembelajaran yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan serius. Nyaris tak ada sesuatu yang dilakukan dengan ceria. Hal tersebut pun terjadi tak sesaat, berpuluh-puluh tahun ternyata.Ingatkah kita, saat masih berseragam? Saat lonceng pagi berdering, pertanda kita masuk. Wajah kita terbawa begitu serius. Belum lagi pelajaran yang diberikan bertemakan serius pula. Sehingga hati kita setengah hati menerima ilmu bahkan mungkin terpental.

Saat pelajaran berhenti lalu dilanjutkan dengan istirahat, rasanya dunia menemui titik terang. Perasaan lega dan gembira berangsur-angsur terdampar di hati. Meskipun ‘titik gelap’ kembali datang kala lonceng berbunyi.

Itulah sekelumit gambaran tentang dunia pendidikan kita. Serius, terkesan satu arah, Padahal suatu pengetahuan akan masuk dengan baik saat otak di kepala kita enjoy dan siap.

Cetakan manusia-manusianya pun lebih banyak menjadi manusia penurut, tak kreatif dan tak kritis. Bicara tentang ilmu yang didapat pun? Banyak yang menguap.
Merancang pembelajaran dengan pola bermain adalah salah satu hal yang dianjurkan. Terlebih untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Selain itu dalam membawakan materi dengan interaktif dan fun sangat membantu. Tak kaku apalagi sampai beraroma galak.
Belajar dengan bermain dapat dilakukan dengan beragam macam kegiatan. Membuat quiz, games dan kelompok belajar lebih memudahkan dalam penyerapan materi. Saat pembelajaran dilakukan, anak-anak akan merasa terlibat. Semua anggota badan akan terlibat sehingga saat otak lupa, tangan, kaki, mata, telinga dan bagian otak yang lainnya akan mengingatkan.

Apa bedanya dengan bermain sambil belajar? Tak jauh beda. Namun bermain sambil belajar lebih bebas dan tak berlaku aturan. Yang perlu diperhatikan adalah merancang alat bermain yang memiliki nilai edukasi. Untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun, alat-alat bermain banyak membantu dalam penguatan motorik halus, motorik kasar dan kognitif anak.

Nah, yang paling penting pemateri atau yang lebih keren disebut guru yang juga mesti fun dalam penyampaian materi. Kan percuma rasanya jika rancangan pambelajaran yang sudah bagus, hanya karena si pemateri tidak siap dan tidak menguasai.
Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar memiliki nilai-nilai positif. Tentu saja bagi perkembangan anak-anak di Indonesia. Ingat tak harus guru, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bisa menggunakan pembelajaran ini. Buat anak-anak kita sebagai anak yang terlahir dengan kreatif, kritis dan mempunyai karakter yang kuat! Dan tinggalkan pembelajaran yang serius, kaku, satu arah.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Perkembangan Jasmani/Motorik Anak TK

Kesehatan dan kekuatan tubuh mutlak diperlukan agar anak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di TK maupun SD. Mereka yang mudah sakit, mudah lelah, dan lambat dalam mengikuti kegiatan praktek serta olah raga, tentu saja akan mengurangi kegembiraannya bersekolah. Hambatan fisik inipun bisa melemahkan rasa percaya diri mereka. Bahkan ada kemungkinan mereka akan terasingkan dari pergaulan, karena tidak bisa mengimbangi keaktifan permainan teman-temannya.

Apalagi bagi sisiwa SD yang jadwal pelajarannya padat, di butuhkan kesehatan prima, untuk mengikutinya. Absen berkali-kali karena sakit bisa merugikan perkembangan pelajarannya. Bahkan dala kasus sakit yang mengharuskan anak beristirahat berminggu-minggu, kadang terpaksa membuat anak harus tinggal kelas karenanya. Tentu kejadian ini akan membuatnya kecewa dan menghambat percaya dirinya.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Perkembangan Intelektual Anak TK

Kemampuan intelektual jangan disama artikan dengan kemampuan menghafal beberapa jenis materi. Kemampuan anak TK B mengurut bilangan dari satu hingga seratus, manambah angka dari satu hingga Sembilan, juga kemampuan membaca, belum bisa dijadikan ukuran kesiapan anak masuk SD.

Yang dimaksud sebagai kemampuan intelektual di sini lebih pada kemampuan daya tangkap anak, daya cerna terhadap informasi yang diberikan, dan kemampuan memahami konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan. Seperti konsep sebab akibat, konsep penarikan kesimpulan dari hal-hal khusus menuju ke umum atau sebaliknya dari hal-hal umum menuju ke khusus.

Jangan terkecoh dengan terlalu dini mengajarkan pelajarn berhitung dan membaca kapada anak hanya supaya terihat pandai, tetapi pengasahan daya nalarnya justru terabaikan. Anak-anak ini hanya akan menonjol dikelas satu(t entu saja, karena sudah memperoleh pelajarannya di masa TK) tetapi karena dasar intelektualnya lemah, pelan-pelan akan menurun pada tingkatan berikutnya.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Perkembangan Sosial Anak TK

Menjelang usia empat tahun, anak yang sudah siap masuk TK sudah akan menunjukan kesenangan untuk bergaul denagn teman. Mungkin ada yang malu-malu dan takut, tetapi keinginan untuk bergaul tetap ada.

Jika suatu kali mereka merugikan orang lain, maka dengan diberi pengertian mereka sudah mau untuk diajak kerjasama. Dengan kemampuan ini, maka di TK akan dimulai proses untuk saling menghargai perasaan sesame teman . jika diberi pengertian, anak sudah mau berbagi dengan teman-temannya. Berbagai mainan, berbagai kue, atau alat-alat peraga.

Sementara mereka yang belum siap bersosilisasi, masih selalu mementingkan dirinya sendiri, tak mau mencoba bergaul, tak mau mengerti perasaan teman, sehingga perilakunya tak disukai teman, bahkan mengganggu berlangsungnya kegiatan di kelas.
Untuk mereka yang hendak ke SD, harus sudah mampu bersosialisasi denagn baik, sudah memiliki kenginan untuk mematuhi perintah di lingkungannya. Bahkan mereka sudah menikmati pola permainan yang terikat pada berbagai peraturan bersama antar pemain, sebagai wujud kenginan untuk berdisiplin itu.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Kematanagan Emosi Anak TK

Anak yang sudah siap masuk TK umumnya telah mampu mengatur emosinya. Jika arah atau jengkel , mereka sudah mulai mampu menahan tangis. Mereka pun menunjukan kemauan bekerjasama mengikuti keinginan guru, tidak bersiteguh terus-menerus dengan keinginanannya sendiri.Untuk meeka yang hendak masuk SD, minimal sudah mulai tumbuh rasa percaya diri terhadap kemampuannya sendiri . bisa melindungi diri sendiri dan membela diri dari ejekan teman. Ini penting, karena di bangku SD setiap anak diharapkan sudah tidak memiliki permasalahan dlam mengatur diri sendiri, sehingga bisa berkonsentrasi menerima pelajaran. Kemandirian juga sudah mulai dituntut, setidaknya mereka sudah mandiri mengurusi kebutuhan-kebutuhan kecil diri mereka sendiri, seperti bangun pagi, mandi dan mengenakan baju sendiri, makan sendiri dan mengatur buku sekolahnya sendiri.

Keberanian merupakan aspek yang diperlukan anak di SD. Mereka yang memiliki keberanian akan mudah mengembangkan berbagai aspek lain seperti kemampuan bahasa, emosiaonal, sosialisasi, kreativitas, intelektual, juga motoriknya. Mereka yang berani cenderung lebih mudah memiliki kepercayaan diri yang kuat.

Penting juga, bahwa nak-anak ini harus suadah memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk belajar, walaupun kemampuan baca tulis mereka belum lancar namun sudah harus ada motivasi mereka untuk mempelajarinya. Perhatian mereka kepada permainan-pernainan sudah mulai beralih ke kegiatan bermain sambil belajar yang lebih serius.

Motivasi balajar ini sangat penting, karena kelak yang akan diterima oleh anak-anak ini di bangku kelas satu adalah dasar-dasar pembelajaran, yang merupakan konsep-konsep penting dari pembelajaran di tingkat selanjutnya. Jika materi konsep dasar kurang mereka kuasai, maka kemungkinan besar akan mengalami kesulitan yang kian berlipat untuk menerima konsep berikutnya yang tentunya lebih rumit di kelas-kelas nselanjutnya.

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Kemampuan Berbahasa Anak TK

Kemapuan berbahasa adalah kebutuhan mutlak untuk berkomunikasi. Seorang anak yang belum cakap perkembangan bahasanya akan mengalami banyak hambatan komunikasi. Ia akan cepat frustasi tak bisa mengungkapkan keinginannya. Anak-anak kecil ini sering kali tiba-tiba menangis tanpa sebab, dan orang tua bingung karena tak mengerti keinginannya. Menangis, marah, atau juga bediam diri, adalah beberapa reaksi yang di tunjukan anak ketika ada keinginan mereka yang tak mampu membahasakan keinginannya secara verbal , maka mereka hanya mampu meluapkan kejengkelannya dalam bentuk perilaku negative.

Mereka yang masih menunjukan sikap kekanak-kanakan ini nampaknya belum siap untuk masuk TK. Di bangku TK, anak sudah tak bisa berharap mnedapat perhatian penuh dari orang tua. Dia harus bebagi dengan sekitar sepuluh anak lain untuk memperoleh perhatian ibu guru. Untuk itu ia harus sudah mampu mengekspresikan keinginanan dana kebutuhannya dalam komunikasi Verbal.

Bagaimana jika anak sudah mampu berbahasa tetapi tak mau buka suara di sekolah karena takut? Jika permasalahannya karena masih takut, malu, atau kurang percaya diri, penyelesian selanjutnya bisa di tempuh melalui pendekatan mental. Jika permasalahan kepribaidiannya terselesaikan, maka hilanglah hambatan komunukasi verbalnya.

Secara umum, anak berusia empat tahun sudah memiliki kemampuan bahasa yang cukup untuk mengikuti pendidikan di TK. Asalkan usianya sudah cukup dan tak ada permasalahan dalam kepribadiannya.

Bagi anak-anak TK yang hendak masuk kelas 1 SD, umumnya kemampuan berbahasa mereka sudah mapan sehingga tidak terlalu banyak mempengaruhi perkembangan selanjutnya.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Peranan Guru TK Dalam Pembelajaran Terpadu

1.PERANAN GURU TK SEBAGAI PERENCANA
Peranan guru sebagai perancana dalam pembelajaran terpadu adalah guru merencanakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan bersama anak didik. Bentuk-bentuk perencanaan dalam proses pembelajaran di TK adalah:

a)Perencanaan Tahunan
Dalam perencanaan tahunan sudah ditetapkan dan disusun kemampuan keterampilan dan pembiasaan-pembiasaan yang diharapkan dicapai oleh anak didik dalam satu tahun. Perencanaan tahunan dan semester juga memuat tema-tema yang sesuai dengan aspek perkembangan anak dan minat anak serta sesuai dengan lingkungan sekolah setempat. Perencanaan tahunan dibuat bersama antara guru-guru dan kepala sekolah.
b)Perencanaan Semester
Perencanaan semester merupakan program pembelajaran yang berisi jaringan tema, bidang pengembangan, kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator yang ditata secara urut, serta sistematis, alokasi waktu yang diperlukan untuk setiap jaringan tema dan sebarannya kedalam semester I dan semester II.
c)Perencanaan Mingguan (Satuan Kegiatan Mingguan)
Perencanaan mingguan disusun dalam bentuk satuan kegiatan mingguan (SKM). SKM merupakan penjabaran dari perencanaan semester yang berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai indikator yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan keluasan pembahasan tema dan sub tema.
d)Perencanaan Harian (Satuan Kegiatan Harian)
Perencanaan harian disusun dalam bentuk satuan kegiatan harian (SKH). SKH merupakan penjabaran dari satuan kegiatan mingguan (SKM). SKH memuat kegiatan-kegiatan pembelajaran, baik yang dilaksanakan secara individual, kelompok, maupun klasikal dalam satu hari. SKH terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat.makan dan kegiatan akhir.
Kegiatan awal merupakan kegiatan untuk pemanasan dan dilaksanakan secara klasikal. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : misalnya berdoa/mengucapkan salam, membicarakan tema atau sub tema. Kegiatan ini merupaka kegiatan yang dapat mengaktifkan perhatian kemampuan sosial dan emosional anak. Kegiatan ini dapat dicapai melalui kegiatan yang memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen sehingga dapat memunculkan inisiatif, kemandirian dan kreativitas anak. Serta kegiatan yang dapat meningkatkan pengertian-pengertian, konsentrasi dan mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik. Kegiatan inti merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara individu/kelompok. Istirahat/makan merupakan kegiatan yang digunakan untuk mengisi kemampuan anak yang berkaitan dengan makan : misalnya mengenalkan kesehatan makanan yang bergizi, tata tertib makan yang diawali dengan cuci tangan kemudian makan dan berdoa sebelum makan. Setelah kegiatan makan selesai, anak melakukan kegiatan bermain dengan alat permainan diluar kelas dengan maksud untuk mengembangkan motorik kasar anak dan bersosialisasi. Kegiatan ini sesuai dengan kemauan anak, anak makan kemudian bermain atau sebaliknya anak bermain terlebih dahulu baru setelah itu makan.
Kegiatan akhir merupakan kegiatan penenangan yang dilaksanakan secara klasikal. Kegiatan akhir yang dapat diberikan misalnya membacakan cerita dari buku, mendramatisasikan suatu cerita, mendiskusikan tentang kegiatan satu hari atau menginformasikan kegiatan esok harinya, menyanyi, berdoa dan sebagainya. Sebagai seorang perencana, guru TK harus memahami langkah-langkah perencanaan dalam pembelajaran terpadu. Sebaiknya perencana pembelajaran disusun untuk waktu tidak kurang dari dua minggu dan dapat diperluas untuk beberapa minggu setelah itu. Sebelum memulai langkah-langkah penyusunan, sebaiknya guru telah memilih dan menentukan tema serta menjabarkannya kedalam sub tema serta menentukan kemampuan yang akan dikembangkan.
Langkah-langkah penyususanan perencanaan pembelajaran terpadu seperti yang disarankan oleh Kostelnik adalah sebagai berikut :
a.Menuangkan ide kedalam tulisan, masukkan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan tema kedalam rencana kita. Pertimbangkan waktu untuk melaksanakannya dan siapkan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan tema untuk memberikan kesempatan kepada anak yang tidak menyukai atau tidak tertarik dengan tema yang telah ditetapkan.
b.Periksa rencana pembelajaran tersebut, pastikan bahwa paling sedikit ada tiga jenis kegiatan yang berhubungan dengan tema dalam satu hari. Pastikan dalam satu minggu seluruh aspek perkembangan yang akan dicapai sudah tercantum dan akan dilalsanakan.
c.Jika dalam perencanaan kita terdapat kerjasama dengan ahli lain seperti dokter, guru musik, guru tari maka pastikan bahwa kita telah menyampaikan isi tema yang akan kita terapkan pada kegiatan pembelajaran agar kegiatan yang akan dilakukan dalam bidang tersebut dapat mendukung dan sejalan dengan kegiatan pembelajaran yang akan kita laksanakan.
d.Persiapkan bahan, alat, media, narasumber dan sarana prasarana.
e.Organisasikan kegiatan dengan baik sehingga setiap anak dapat terfokus pada tema.
f.Pastikan bahwa dalam rencana kita seluruh konsep, istilah, fakta dan prinsip telah dikembangkan dengan baik dan kegiatan yang akan dilaksanakan cukup bervariasi.
g.Ciptakan suasana tematik dalam kelas.

2.PERANAN GURU TK SEBAGAI PELAKSANA
Setelah rencana pembelajaran selesai disusun maka tugas guru selanjutnya adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam kegiatan pembelajaran dikelas. Agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif, sebaiknya guru memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a)Kembangkan rencana yang telah kita susun dan perhatikan kejadian atau peristiwa spontan yang ditunjukkan oleh anak terhadap materi yang dipelajari pada hari itu.
b)Melaksanakan penilaian terhadap minat dan pemahaman anak mengenai tema tersebut dengan menggunakan pengamatan, wawancara, diskusi kelompok maupun contoh hasil kerja anak.
c)Bantu anak untuk memahami tentang isi dan proses kegiatan pembelajaran.
d)Lakukan percakapan dengan anak tentang hal-hal yang berkaita dengan tema sehingga kita dapat mengetahui seberapa jauh pemahaman anak tentang tema yang dipelajari pada hari itu. Bantu dan doronglah anak untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara menjawab pertanyaannya atau memberikan kesempatan pada anak untuk mencari dan menemukan jawaban melalui kegiatan eksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya.
e)Adakan kerjasama dengan orang tua atau keluarga secara timbal balik mengenai kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, informasikan tema kepada pihak oang tua atau keluarga sehingga orang tua ikut serta mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

3.PERANAN GURU TK SEBAGAI EVALUATOR
Peranan guru TK sebagai evaluator adalah melakukan penilaian terhadap proses kegiatan belajar dan penilaian hasil kegiatan. Penilaian dilakukan secara observasi dan pengamatan terhadap cara belajar anak baik individual atau kelompok. Tujuan penilaian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai oleh anak. Hasil karya anak dapat kita pajang ditempat pemajangan sebagai tanda hasil kegiatan yang telah dilakukan, hal ini dapat membangun rasa kebanggaan pada diri anak dan dapat memotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Evaluasi harus mampu memperdayakan guru, anak dan orang tua. Guru sebagai evaluator harus melihat penilaian sebagai suatu kesempatan untuk menggambarkan pengalaman anak didik serta sebagai alat untuk mengetahui kemajuan proses maupun belajar anak didik.
Setelah mempelajari dan memahami penjelasan mengenai peranan guru, tampaklah bahwa tugas dan tanggung jawab seorang guru TK tidaklah mudah dalam kegiatan pembelajaran terpadu. Peranan lain yang harus dilakukan guru sebagai pendidik, pembimbing dan pelatih adalah :
a.Korektor
Guru harus bisa membedakan nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, sehingga guru dapat menilai dan mengoreksi semua tingkah laku, sikap dan perbuatan anak didik. Jadi peran guru Tk sebagai korektor ialah mengembangkan kemampuan berprilaku melalui kebiasaan-kebaiasaan yang baik dan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk.
b.Inspirator
Guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Disini peran guru ialah menuangkan ide-ide atau gagasan atau melakukan inovasi pembelajaran guna kemajuan anak didik. Misalnya menciptakan atau mengembangkan berbagai media, alat maupun metode-metode pembelajaran.
c.Informator
Guru memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain materi yang telah diprogramkan sesuai kurikulum. Kemudian guru harus mengembangkan dirinya dengan terus belajar tentang kemajuan-kemajuan teknologi agar tidak “gagap teknologi (gatek)” dan memiliki yang luas diberbagai hal.
d.Organisator
Guru memiliki kegiatan pengelolan akademik, menyusun tata tertib sekolah dan menyusun kalender akademik. Semua kegiatan harus diorganisasikan dengan baik sehingga tercapai efektivitas dan efesiensi pembelajaran.
e.Motivator
Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar lebih bersemangat dan aktif dalam belajar, motivasi ini lebih efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak.
f.Inisiator
Peran guru sebagai pencetus ide-ide dalam kemajuan pendidikan dan pembelajaran. Guru harus mampu mengembangkan dan memberi sumbangsih pemikiran demi kemajuan pendidikan mulai dari yang terkecil seperti dalam kelas dan sampai yang terbesar dalam lingkup sekolah maupun wilayah yang lebih luas lagi.
g.Fasilitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya menyediakan fasilitas yang memudahkan kegiatan belajar dan dapat menyenangkan atau bisa membangkitkan anak didik untuk bereksplorasi serta menyalurkan minat dan keingintahuannya secara aktif.
h.Pembimbing
Bimbingan yang diberikan guru sebaiknya sesuai dengan kebutuhan anak didik. Jika dilihat anak tersebut mampu melaksanakan tugasnya, namun dia tampak manja atau tidak mau melakukannya maka cobalah untuk bersikap tegas dengan meminta anak untuk mencoba melakukannya sendiri dahulu sampai anak itu benar merasa membutuhkan bantuan barulah guru membantunya.
i.Demonstrator
Dalam kegiatan pembelajaran tidak semua materi pelajaran dapat dipahami oleh anak mengingat kemampuan setiap anak berbeda-beda. Untuk materi yang sulit dipahami oleh anak didik, sebaiknya guru memperagakan sehingga dapat membantu anak yang belum memahami materi tersebut. Untuk materi yang cukup berbahaya dilakukan oleh anak sendiri, sebaiknya guru bertindak sebagai demonstrator.
j.Pengelola Kelas
Pengelolan kelas menunjukkan pada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar, termasuk pengaturan tempat duduk, ventilasi, pengauran cahaya dan pengaturan penyimpanan barang.
k.Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media material amaupun nonmaterial. Sehingga guru dapat menentukan media yang paling sesuai untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Selain sebagai mediator, guru juga sebagai penengah dalam proses belajar anak didik khususnya saat kegiatan diskusi kelompok.
l.Supervisor
Guru dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. Kelebihan yang dimiliki supervisor selain posisinya ada juga karena pengalaman, pendidikan, kecakapan atau keterampilan yang dimilikinya atau memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol dari pada orang-orang disupervisinya. Dengan peran guru sebagai supervisor, guru juga harus memilki kesadaran untuk dapat menilai kinerjanya sendiri untuk meningkatkan kegiatan pembelajarannya.

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Kualitas Pribadi dan Kompetensi Guru TK

Kurikulum TK yang direvisi terus menekankan fitur kualitas pribadi dan kompetensi guru TK yang diperlukan untuk membuat sebuah desain proses pembelajaran menjadi kenyataan dengan berdasarkan pada program yang:
1.reseptif dan berada dalam lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan proses pembelajaran
2.bahan dan peralatan yang dirancang secara multi-level dan multi-pengalaman
3.menggunakan instruksi yang “bersahabat”, berdasarkan pada kebutuhan individu setiap anak
4.mengupayakan adanya integrasi pemahaman dan pengembangan konsep “belajar seumur hidup”
5.menyediakan berbagai alternatif cara untuk bermain, mengoptimalkan indera, mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai benda
6.menekankan pada perkembangan bahasa.

Kompetensi guru harus berakar pada pemahaman anak-anak dan budaya dan dalam rangkaian nilai-nilai yang menentukan sesuai perkembangan anak, di mana secara singkat dapat dikatakan bahwa "Guru TK harus memiliki sikap positif terhadap kepercayaan, penghargaan dan penerimaan anak-anak dalam keseluruh proses perkembangan mereka.", artinya:

•Guru TK harus memiliki organisasi kerja yang baik dengan berdasarkan pada pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan anak-anak agar dapat membuat instruksi-instruksi yang bersifat individual.
•Guru TK juga perlu memiliki dasar pengetahuan yang luas agar untuk dapat menyiapkan bahan maupun peralatan yang multi-level dan multi-pengalaman serta multi-konten.
•Dia harus dapat memahami bagaimana anak-anak belajar, dan dapat melihat proses pembelajaran sebagai suatu keseluruhan yang utuh, bukan sekadar sebagai akumulasi dari banyak bagian perkembangan dan pertumbuhan sekumpulan anak-anak.
•Guru tidak hanya membutuhkan sikap penerimaan yang memungkinkan setiap anak untuk merasa dihargai, tetapi juga kebutuhan kompetensi dalam mengamati baik verbal dan perilaku non verbal agar dapat merespons dengan tepat.
•Guru TK yang efektif dapat menggunakan berbagai metode pengajaran, dan terampil dalam menetapkan tujuan spesifik, mengajukan pertanyaan dan menilai kemajuan anak-anak.
•Seorang guru TK mengenali "waktu dan ruang yang tepat " dan mampu melibatkan masyarakat di sekitar sekolah. Guru memiliki pandangan yang luas dari proses belajar dan memanfaatkan pada kepentingan anak-anak dan pengalaman.
•Sang guru memperhatikan kebutuhan semua anak-anak, termasuk anak-anak dari berbagai budaya dan orang-orang dengan kebutuhan khusus. Dia mengakui kebutuhan untuk mengembangkan rasa harga diri dan kompetensi melalui pertemuan berhasil sesuai tantangan.
http://www.sasked.gov.sk.ca/

Alam Pedesaan Sebagai Pembelajaran TK

Dalam kurikulum Taman Kanak Kanak (TK) telah dijelaskan bahwa pembelajaran harus mencakup dua bidang. Yang pertama bidang pengembangan pembiasaan, selanjutnya pengembangan kemampuan dasar. Pengembangan dua bidang itu sesuai dengan fungsi TK yang membentuk sikap dan memberi keterampilan anak didik agar siap memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD)

Di lapangan, banyak guru TK menyalahtafsirkan istilah "menyiapkan anak didik memasuki SD". Akibatnya, materi-materi pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan pada kemampuan baca, tulis, dan hitung. Harapannya, ketika anak memasuki SD, mereka mampu membaca dengan lancar, menulis dengan baik, dan mampu mengerjakan konsep matematika sederhana. Semakin banyak anak TK yang memiliki kemampuan mmebaca dan menulis dengan baik, sekolah tersebut dianggap lebih berhasil dalam menyiapkan anak memasuki SD.

Anggapan tersebut harus diluruskan. Sebab, kemampuan yang dikembangkan di TK bukan hanya sebatas baca, tulis, dan hitung. Sesuai teori Bloom, pengembangan itu harus meliputi pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Lebih gampangnya, potensi yang bisa dikembangkan adalah aspek kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni.

Saat ini, beberapa TK di perkotaan sudah mulai membenahi program-program kegiatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka membekali anak didik dengan hal-hal yang bersifat alam. Misalnya berkebun, mengajak anak-anak ke lingkungan persawahan, pantai, kawasan industri, mendaur ulang barang-barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat, memasak, dan lain-lain. Itu merupakan program inovatif untuk pendidikan TK, meski harus ditunjang dana yang tidak sedikit.

Di pedesaan, pembelajaran TK dengan memanfaatkan lingkungan tidak memerlukan biaya yang besar. Alam pedesaan telah menyediakan sarana dan prasarana yang berlimpah untuk menunjang program inovatif tersebut. Berbagai jenis tanaman di sekitar sekolah, areal persawahan, dan tegalan (kebun) merupakan modal besar untuk bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan menggunakan pendekatan lingkungan, ruangan kelas bukan lagi menjadi satu-satunya pusat kegiatan belajar mengajar.


Aspek Kognitif


Pengembangan aspek ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir anak. Mereka didorong untuk mampu menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu. Tak hanya itu, anak juga diarahkan untuk mempunyai kemampuan memilah, mengelompokkan, serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.

Jean Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak usia TK masuk pada tahap praoperasional. Anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya, mengenal konsep sederhana di lingkungannya, dan mengingat kembali simbol, serta membayangkan benda yang tidak tampak secara fisik.

Di kebun, anak bisa dikenalkan bagian-bagian tanaman. Mulai dari dari akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Lebih jauh lagi, mereka bisa diajari mengenal beberapa jenis tanaman, kemudian mengelompokkan tanaman yang sejenis.

Anak juga bisa diajak mengamati berbagai binatang yang menjadi bagian ekosistem kebun, Misalnya cacing, belalang, jangkerik, dan berbagai hama tanaman. Di samping itu, anak juga bisa dikenalkan proses metamorphose kupu-kupu yang dimulai dari telur-ulat-kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Rangkaian kegiatan tersebut secara langsung mengarah pada kegiatan sain yang saat ini mulai dikembangkan di TK. Untuk mengerjakan matematika sederhana (penjumlahan maupun pengurangan) bisa menggunakan biji-bijian sebagai alat bantu.


Aspek Bahasa

Pengembangan aspek ini bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif, dan membangkitkan minat untuk berbahasa Indonesia.

Salah satu metode yang dianggap efektif adalah metode bermain peran. Ada dua cara untuk melaksanakannya. Pertama, bermain peran besar yang memerlukan kostum dan perlengkapan sesuai yang diperankan anak. Kedua, bermain peran kecil yang memerlukan peralatan tiruan (mainan). Misalnya boneka, perlatan dapur mainan, kendaraan mainan, dan lain-lain.

Bahan dan perlengkapan bermain peran sangat mudah didapat di pedesaan. Misalnya untuk bermain peran besar. Anak bisa mengunakan daun sukun atau daun nangka yang dibentuk menjadi topi dan topeng. Membuat pedang, kuda, dan bedil pun bisa dari pelepah pisang.

Begitu banyaknya bahan-bahan di pedesaan, sehingga kegiatan bermain peran bisa dilaksanakan dengan melibatkan anak dalam jumlah besar. Misalnya, bermain peran jual-beli di pasar. Guru dan anak didik bisa secara bersama-sama menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi, dalam permainan tersebut, guru hanya menjelaskan tentang aturan-aturan permainan. Tidak diperlukan pengarahan secara terus-menerus. Semakin sering guru mengarahkan, anak merasa terkekang dan kurang berani memunculkan kreatifitas dan ekspresinya.


Aspek Seni


Pengembangan aspek ini diarahkan agar anak mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan dapat menghargai hasil karya yang kredit.

Di samping peralatan tulis (kertas, crayon, pensil, dll) bahan-bahan alam di pedesaan juga banyak tersedia untuk mengembangkan kemampuan ini. Misalnya daun pisang dan kelapa untuk menganyam, bunga dan dedaunan untuk membuat pewarna, dedaunan-lidi-ranting kering dan tanah liat untuk mencipta bentuk. Untuk membuat alat perkusi sederhana bisa digunakan bambu, batang padi, pelepah daun papaya, dan lain-lain.

Hakikat pembelajaran di TK adalah belajar seraya bermain. Melalui bermain, anak diajak bereksplorasi, menemukan dan manfaatkan objek-objek di dekat mereka, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Tugas guru adalah memanfaatkan alam tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.



Aspek Fisik

Tujuan pengembangan aspek ini adalah mengenalkan dan melatih gerakan kasar maupun halus, meningkatkan kemampuan mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat.

Tersedianya lahan yang luas di sekitar sekolah sangat memudahkan guru TK di pedesaan untuk membuat permainan yang menarik dan menantang. Salah satu kegiatan yang mulai digalakkan adalah out bound. Biaya out bound bagi TK di pedesaan jauh lebih murah dibandingkan TK di perkotaan. Sebab, mereka tidak dibebani biaya transportasi, sewa lahan, atau jasa pelaksana out bound. Lahan-lahan di sekitar sekolah bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan permainan kerjasama (team work) dan permainan halang rintang.

Bahan-bahan alam di pedesaan juga sangat memungkinkan bagi guru dalam menyediakan materi untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Misalnya melipat, menjahit, menggunting, menempel, mencocok, meremas, menjiplak, dan lain-lain. Semua itu bisa dikerjakan dengan memanfaatkan dedaunan, akar, batang, bunga, dan biji-bijian.

Kapan Anak Siap Mengawali TK dan SD

Kapan siap masuk TK, jawabannya bisa beragam untuk masing-masing anak. Umumnya, usia empat tahun ideal untuk mengawali TK, umumnya usia empat tahun cukup ideal untuk mengawali TK, atau bisa ditoleransi hingga lima bulan sebelumnya, dengan catatan telah memenuhi criteria kesiapan minimal dari berbagai segi. Hati-hati dengan perbedaan usia walau hanya sebulan, harus tetap diperhitungkan. Bagi anak balita, beda usia sebulan bisa menyebabakan perbedaan kematangan yang jauh. Anak berusia tiga tahun enam bulan bisa berbeda jauh dengan usia tiga tahun tujuh bulan.

Namun demikian, untuk mengawali TK tidak bisa diterapkan patokan kemapuan terlalu kaku, karena pada usia ini kemajuan anak masih sangat ditentukan oleh dorongan motivasi dari orang tua dan gurunya. Jika usia telah telah cukup tetapi anak masih memiliki perkembangan yang belum memenuhi syarat, itu semua bisa dipacu dengan bantuan kerjasama orang tua dan guru nantinya di TK. Sebaliknya , fase perkembangan tak bisa terlalu dipercepat, sehingga anak yang berusia tiga tahun enam bulan terlalu sulit untuk dipaksa mengikuti perkembangan kakak-kakaknya kelak di TK. http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Mencermati Kesiapan Anak Masuk Sekolah

Menjelang Tahun ajaran baru saatnya orang tua sibuk memilihkan sekolah untuk putra-putrinya. Suatu kesibukan penting karena sangat banyak menentukan keberhasilan perkembangan anak selanjutnya. Jangan sampai salah langkah. cari informasi sebanyak-banyaknya, agar memperoleh data valid untuk bahan pertimbngan.

Sebelum memilih, jangan lupa untuk untuk menjawab terlebih dahulu pertanyaan ini “Sudah Siapkah anak Anda mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi?” hal ini penting, karena masih banayk kasus, anak terpaksa harus duduk di bangku TK maupun SD hanya karena memenuhi keinginan orang tuanya, walaupun sebenarnya secara psikis mereka belum mampu. Akibatnya, mereka gagal dan menjadi korban.
http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Lirik Lagu Anak-Anak

Taman Kanak-Kanak / TK

Taman yang paling indah hanya taman kami
Taman yang paling indah hanya taman kami
Tempat bermain berteman banyak
Itulah taman kami taman kanak-kanak


Balonku Ada Lima

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOOOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Pelangi


Pelangi pelangi
Alangkah Indahmu
Merah kuning hijau
Di langit yang biru
Pelukismu agung
Siapa gerangan
Pelangi pelangi
Ciptaan Tuhan

Aku Seorang Kapiten


Aku seorang kapiten
Mempunyai pedang panjang
Kalau berjalan prok prok prok
Aku seorang kapiten

Bintang Kecil

Bintang kecil
Di langit yang biru / tinggi
Amat banyak
Menghias angkasa
Aku ingin
Terbang dan menari
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada

Bangun Tidur

Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku

Burung Kakaktua

Burung kakaktua
hinggap di jendela
Nenek sudah tua
giginya tinggal dua
Tekdung tekdung tekdung la la la
Tekdung tekdung tekdung la la la
Tekdung tekdung tekdung la la la
Burung kakaktua

Dua Mata Saya

Dua mata saya
Hidung saya satu
Dua kaki saya
Pakai sepatu baru
Dua telinga saya
Yang kiri dan kanan
Satu mulut saya
Tidak berhenti makan

Hujan

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua


Kupu-Kupu


Kupu-kupu yang lucu
kemana engkau terbang
Hilir-mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang


Topi Saya Bundar


Topi saya bundar
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya

Satu Satu Aku Sayang Ibu

Satu satu aku sayang ibu
Dua dua aku sayang ayah
Tiga tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya

Nina Bobo


Nina bobo oh nina bobo
Kalau tidak bobo digigit nyamuk
Tidurlah sayang adikku manis
Kalau tidak bobo digigit nyamuk

Naik Kereta Api

Naik kereta api tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama Cepat keretaku jalan tut tut tut

Naik Gunung


Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara


Naik Delman

Pada Hari Minggu ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa kududuk di muka
Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda

Kunang-Kunang


Kunang-kunang hendak ke mana
Kelap-kelip indah sekali
Gemerlap bersinar
seperti bintang di malam hari
Kunang-kunang terbang ke sini
Ke tempatku singgah dahulu
Kemari kemari Hinggaplah di telapak tanganku

Kebunku


Lihat kebunku penuh dengan bunga
Ada yang putih dan ada yang merah
setiap hari kusiram semua
Mawar melati semuanya indah


Cara-cara Nabi Mendidik Anak

Banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari pemimpin umat. Hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada dibalik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Akan tetapi sunatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalui pendidikan. Namu tidak semua setrategi pendidikan berhasil, kecuali dengan setrategi matang dan berkelanjutan. (Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain rahimahullah dalam bukunya As-Sa’adul Udhma)

Pertama

Panduan Dasar untuk Orang Tua dan Pendidik
Ibnu Abbas ra. Berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda :
Ajarlah, permudahlah dan jangan persulit, gembirakanlah dan jangan takut-takuti, jika kalian marah hendaklah berdiam diri. (HR. Ahmad dan Bukhari)
Langkah-langkah dalam mendidik anak adalah :

1.Keteladanan
Keteladanan yang baik membawa pesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak adalah orang tuanya. Maka oarng tua adalah yang paling kuat menanamkan pengaruhnya kedalam jiwa anak. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan agar orang tua bersikap jujur dan menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya.
Rasululllah saw bersabda : “ barang siapa berkata kepada anaknya, kemarilah (nanti kuberi), kemudian tidak diberi maka dia adalah pembohong. “ (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).
Oleh karena itu orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan sunnah RasulNya, berkaitan dengan perilaku dan perbuatan. Karena anak melihat mereka setiap waktu, kemampuan untuk meniru, secara sadar atau tidak sangat besar, tidak seperti yang kita duga. Namun kita sering memandangnya hanya sebagai makhluk kecil.


2.Memilih waktu yang tepat untuk menasehati
Memberi nasehat pada waktu yang sesuai sangat besar pengaruhnya. Orang tua harus memilih waktu yang tepat untuk menasehati anaknya. Agar anak-anak dapat menerima dan terkesan dengan nasehatnya. Rasulullah saw, beliau selalu memperhatikan waktu dan tempat untuk menasehati anak-anak, karena pemilihan waktu yang tepat berguna untuk memantapkan pemikiran mereka, meluruskan perilaku mereka yang menyimpang dan membangun kepribadian mereka yang bersih dan sehat.
Ada tiga pilihan waktu yang dianjurkan Rasulullah saw, kepada kita untuk memberi nasehat kepada anak-anak yaitu :
a.Saat berjalan-jalan atau di atas kendaraan
b.Waktu makan
c.Waktu anak sakit

3.Bersikap adil dan tidak pilih kasih

4.Memenuhi hak-hak anak
5.Mendoakan anak
6.Membelikan mainan
7.Membantu anak agar berbakti dan taat
8.Tidak banyak mencela dan mencaci

Kedua
Cara Efektif Mengembangkan Pemikiran Anak
1.Menceritakan Kisah-kisah
2.Bicara Langsung
3.Bicara sesuai dengan kemampuan akal anak
4.Dialog dengan tenang
5.Metode Praktis Empiris
6.Kebutuhan Anak terhadap figur rill, yakni Rasulullah saw.

Ketiga
Cara Efektif Membangun Jiwa Anak.
Jiwa tumbuh dengan kelembutan tarbiyyah, sebagaimana badan tumbuh dengan makanan bergizi. Pertumbuhan badan ada batasnya, namun pertumbuhan jiwa berjalan terus, sepanjang hayat masih dikandung badan. (Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain Rahimahullah).
Cara-cara membangun jiwa anak adalah :
1.Menemani anak
2.Menggembirakan hati anak
3.Membangun kompetensi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya
4.Memotivasi anak
5.Memberi pujian
6.Bercanda dan bersendau gurau dengan anak
7.Membangun kepercayaan diri seorang anak
8.Panggilan yang baik
9.Memenuhi keinginan anak
10.Bimbingan terus-menerus
11.Bertahap dalam pengajaran
12.Imbalan dan ancaman

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Pentas Seni dan Tari dan Drama Mahasiswa PGTK Darunnajah



Program Diploma 1 Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Darunnajah yang secara struktural berada di bawah fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah/STAIDA, mengadakan pentas seni pada tanggal 24 Januari 2011 dari pukul 11.00-14.00.acara pentas seni digelar bukan sekedar menyalurkan hobi atau minat para mahasiswa calon guru TK dalam bidang seni, melainkan lebih serius lagi sebagai materi Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Seni Tari dan Drama. Mata kuliah ini diampu oleh Saidah Ahmad S.Pd.I

Mengenai dekorasi panggung dan setting ruangan, diserahkan seutuhnya kepada mahasiswa. Mahasiswa PGTK Darunnajah yang jumlahnya 28 orang, membuat tim kreatif yang bertanggung jawab untuk mendisain panggung, yang aslinya merupakan ruang kuliah sehari-hari. Ide pelaksanaan pentas seni berasal dari dosen pengampu, dosen tidak menentukan apa dan bagaimana pentas seni ini dirancang, dosen pengampu memberikan sepenuhnya kepada mahasswa untuk mengembangkan kreatifitasnya.
Walaupun mahasiswa membentuk tim kreatif untuk mendisain panggung, namun bukan berarti ada mahasiswa yang berpanku tangan. Apalagi memang acara pentas seni ini dilakukan untuk pengambilan nilai UAS, sehingga para mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan ide semaksimal mungkin dalam pentas seni ini, selain dengan tujuan mendapatkan hasil yang baik untuk mata kuliah seni tari dan drama, juga sebagai wadah untuk menuangkan ide-ide kreatif yang selama ini mereka miliki.
Akan halnya dana, mahasiswa PGTK tidak mengeluarkan dana dari saku pribadi mereka, karena dana yang terkumpul melalui penggalangan uang kas kelas setiap bulannya, telah mencukupi untuk mendanai acara.

Acara berlangsung menarik dan menyenangkan bagi mahasiswa dan dosen pengampu. Pentas seni ini merupakan agenda tetap tahunan mahasiswa PGTK, karena dirasakan manfaatnya sangat besar bagi mahasiswa. Namun tentu rencana tersebut disesuaikan dengan fleksibilitas waktu kuliah yang cukup padat. Selain itu, sebagai calon guru TK, mahasiswa memang dituntut untuk kreatif dan memiliki sense of art yang tinggi dalam mengelola pembelajaran untuk anak usia dini. Sehingga setiap mata kuliah, khususnya mata kuliah kejuruan, memang merujuk kepada skil-skil yang dibutuhkan tersebut, karena menghadapi anak usia dini memang membutuhkan skil khusus dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi guru TK yang baik.

Menurut Suryani, ketua mahasiswa PGTK, ide pentas seni sangat bagus dan bermanfaat. Mahasiswa tidak merasakan suasana ujian yang formal, karena acara berlangsung begitu menyenangkan, masing-masing mahasiswa mengeluarkan ide dan kemampuannya dengan cara dan gayanya masing-masing, sehingga waktu ujian selama 2 jam tidak membosankan. Acara ini juga berfungsi sebagai refreshing bagi mahasiswa di akhir perkuliahan. Bahkan dosen pengampu, staf pengelola PGTK dan staf pengelola STAIDA yang ikut menyaksikan acara inipun ikut merasa terhibur oleh aksi para mahasiswa yang mengalir secara alami dan seringkali memancing gelak tawa.

Acara berlangsung dengan sukses, mahasiswa merasa terhibur, materi ujian telah dikerjakan, dan program kuliah berjalan lancar. Semoga mendapatkan nilai yang memuaskan, semoga seluruh mahasiswa dapat menjalankan fungsi di dunia pendidikan,dan mahasiswa PGTK Darunnajah dapat memberikan jiwa, fikiran dan segala kemampuannya secara total untuk mendidik calon pemimpin bangsa masa depan. Amin.
SELAMAT YA, CALON GURU TK

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com

Pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa PGTK Darunnajah


Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu program materi kuliah yang ada di PGRA/TK Darunnajah. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memantapkan kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan sosial dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran.Untuk menjadi guru yang memiliki kompetensi yang memadai diperlukan latihan-latihan secara terus-menerus. Kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa dalam PPL diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang sistematik dan terpercaya dari lembaga yang kompeten. Proses kompetensi ini didapat dari banyaknya interaksi bermakna, yaitu interaksi antar mahasiswa dan guru pamong, mahasiswa dan dosen pembimbing, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan materi pelajaran. Oleh karena pelaksanaan PPL harus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terjadi interaksi-interaksi yang dapat menumbuhkembangkan kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang guru.

Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas dalam pelaksanaan PPL, maka lembaga PGTK Darunnajah mengadakan Pembekalan PPL untuk mahasiswanya sebagai wahana untuk pengarahan dan persiapan pelaksanaan PPL. Pembekalan PPL ini dilaksanakan pada hari rabu, 2 Februari 2011. bertempat di kampus PGTK. Yang diikuti oleh seluruh mahasiswa PGTK. Acara ini dimulai pukul 10.00-13.00 WIB. Dalam pembekalan ini mahasiswa diberikan pengarahan tentang pelaksanaan PPL diantaranya :
a. Panduan PPL
b. Pedoman Non Teknis PPL
c. Cara berpakaian
d. Simulasi mengajar di TK

Dalam pembekalan PPL ini mahasiswa diberikan penjelasan tentang prosedur waktu PPL yaitu PPL terdiri dari Micro teaching (latihan mengajar dalam kelompok kecil) dan Praktik mengajar di Sekolah Praktik. PPL ini dilaksanakan selama satu bulan. Tanggal 14 Februari-12 Maret 2011. dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Minggu I : Observasi,
Minggu II : Mengajar terbimbing,
Minggu III : Mengajar mandiri,
Minggu IV : Ujian praktik.
Pelakasanaan PPL dilaksanakan di 3 sekolah TK yaitu TK Islam Darunnajah Ulujami, RA. Amali Ciledug dan RA. Al-muttaqin Petukangan.

Kegiatan pembekalan PPL ini berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang baik dari seluruh mahasiswa, dengan adanya interaksi yang komunikatif antara dosen dan mahasiswa sehingga suasana pembekalan PPL berjalan secara kondusif.
Semoga kegiatan PPL mahasiswa PGTK Darunnajah tahun akademik 2010-2011 berjalan dengan lancar dan baik. Amin.

Rapat Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) PGTK Darunnajah


Rapat Praktik Pengalaman Lapangan merupakan agenda tahunan yang diadakan lembaga PGTK Darunnajah. Untuk mempersiapkan proses pelaksanaan PPL disekolah-sekolah TK tempat Praktik mahasiswa mengajar selama satu bulan. Rapat ini diadakan menjelang pelaksanaan PPL. Atau setiap akhir semester satu.Rapat Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) PGTK Darunnajah dilaksanakan pada hari Senin, 31 Januari 2011. pukul 13.30-15.00 WIB. bertempat di Kampus PGTK Darunnajah. rapat ini dihadiri oleh Pengelola PGTK, Dosen Pembimbing, Kepala Sekolah TK dan Guru Pamong TK. Yang jumlah pesertanya ada 15 orang. Yang berasal dari 3 TK yaitu TK Islam Darunnajah Ulujami, RA Al-Muttaqin Petukangan dan RA Amali Ciledug.

Rapat PPL ini dibuka oleh Ketua Program PGTK Bapak H. Abdul Haris, S.Mn. dilanjutkan dengan sambutan dari pengelola PGTK Ibu Hj. Zainuyah, S.Pd.I. dan acara inti yaitu membahas tentang Prosedur pelaksanaan dan penilaian PPL. (terdiri dari teknik Micro teaching, teknik penilaian, kriteria penilaian) Yang disampaikan oleh Ibu Siti Nurhidayah, S.Pd.I. rapat PPL ini bertujuan untuk memberikan pengarahan dan pedoman pelaksanaan PPL serta menyamakan persepsi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan PPL ini. Sehingga proses dan hasil PPL Mahasiswa berjalan dengan baik serta menghasilkan lulusan praktikkan mengajar yang professional dan berkualitas.

Ujian Akhir Semester I (UAS) PGTK Darunnajah


materi kuliah yaitu : Landasan Pendidikan TK, Program Pendidikan Pra sekolah, Metodologi pengembangan kognitif, Retorika Dakwah, Metodologi pengembangangan agama dan budi pekerti, Seni tari dan drama, Bimbingan Al-Qur’an, Psikologi perkembangan anak, Metodologi pengembangan jasmani dan ketrampilan, Metodologi pengembangan kognitif, Perencanaan, Pengelolaan dan Evaluasi Pengajaran dan seni rupa.
Ujian akhir semester ini dilaksanakan melalui ujian tertulis dan ujian praktik. ujian tertulis dilaksanakan dalam 10 materi kuliah. Dan 1 materi kuliah diujikan dengan ujian praktik yaitu materi kuliah Seni tari dan Drama. Pada ujian seni tari dan Drama ini mahasiswa menampilkan kreasi tari dan drama melalui kelompok-kelompok yang telah dibentuk oleh dosen tari. Ujian seni tari dan drama dilaksanakan di dalam kelas. Yang dibuat panggung kecil untuk penampilan mahasiswa. Seluruh mahasiswa berperan serta dalam mendekorasi panggung. Mereka berkreasi dengan kreatif sehingga hasil pengaturan panggung terlihat rapi dan menarik. Tujuan adanya praktik menari dan drama perkelompok ini adalah untuk mengembangkan kreatifitas mahasiswa dalam bidang seni serta melatih kepercayaan diri, keberanian mahasiswa dalam mengelola suatu pentas seni di Taman Kanak-kanak (TK).

Alhamdulillahirabbil’alamin pelaksanaan Ujian Akhir Semester I berjalan dengan lancar. Seluruh mahasiswa mengikuti ujian dengan baik dan tertib. Diharapkan dengan ujian ini mahasiswa dapat menguasai, memahami serta dapat mengaplikasikan seluruh materi kuliah dengan baik. Amin.

Metode Bermain Anak TK

1. Pengertian Bermain bagi Anak TK
Motivasi Intrinsik tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak.
Pengaruh positif tingkah laku itu menyenangkan atau menggembirakan untuk dilakukan.
Bukan dilakukan sambil lalu, tingkah laku itu bukan dilakukan sambil lalu.
Cara/tujuan, cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya.
Kelenturan, bermain itu perilaku yang lentur

2. Fungsi bermain bagi anak TK.
Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata.
Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata.
Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng.
Untuk melepaskan dorongan yang tidak dapat diterima.
Untuk kilas balik pesan-pesan yang biasa dilakukan.
Mencerminkan pertumbuhan.
Untuk mengembangkan sosial anak.

Beberapa fungsi bermain :
- Mempertahankan keseimbangan
Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain, anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan.
- Menghayati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari
Fungsi bermain sebagai sarana untuk menghayati kehidupan sehari-hari ini berguna untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak.
- Mengantisipasi peran yang akan dijalani di masa yang akan datang.
Meskipun anak berpura-pura memerankan seorang ibu/ayah, perawat atau sopir truk, namun sebenarnya kegiatan tersebut merupakan untuk mempersiapkan anak melaksanakan peran tersebut kelak.
- Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari.
Anak TK merupakan pribadi yang sedang tumbuh. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan geraknya.
- Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari.
Anak TK merupakan pribadi yang sedang tumbuh. Dengan demikian anak selalu berusaha menggunakan kekuatan tubuhnya karena hal ini sejalan dengan pertumbuhan geraknya.
- Menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah.
Masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat bersifat masalah emosional sosial maupun intelektual.
- Meningkatkan keterampilan berhubungan dengan anak lain.
Melalui kegiatan bermain anak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan keterampilan bergaulnya seperti bagaimana menghindari pertentangan dengan teman.

3. Beberapa penggolongan kegiatan bermain anak TK.
a. Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan
sosial anak. Gorden & Browne 1985, mengadakan penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak dala bentuk :
1. Bermain secara soliter
2. Bermain secara paralel
3. Bermain asosiatif.
4. Bermain secara kooperatif.
b. Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak yaitu bermain bebas dan spontan :
1. Bermain bebas dan spontan.
2. Bermain pura-pura.
Bermain pura-pura dapat dibedakan dalam bentuk:
- Minat pada personifikasi.
- Bermain pura-pura dengan menggunakan peralatan.
- Bermain pura-pura dalam satuan tertentu.
3. Bermain dengan cara membangun atau menyusun.
4. Bertanding atau berolahraga.